Tanda-tanda Akhir Zaman

Hari kiamat itu mempunyai tanda, bermulanya dengan tidak laris jualan di pasar, sedikit saja hujan dan begitu juga dengan tumbuh-tumbuhan. Ghibah menjadi-jadi dan merata-rata, memakan riba, banyaknya anak-anak zina, orang kaya diagung-agungkan, orang-orang fasik akan bersuara lantang di masjid, para ahli mungkar lebih banyak menonjol dari ahli haq.Wallahu'alam Bish-shawab


Minggu, 14 September 2014

Ilmu Agama Ditarik dari Manusia Pada Akhir Zaman

Ibnu Majah berkata, bahwa Muhammad bin Abdullah bin Numair meriwayatkan kepada kami dari Ubay dan Waki’, dari al A’masy, dari Syaqiq, dari Abdullah, ia mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda,
“Akan terjadi menjelang Kiamat nanti hari-hari dimana ilmu agama ditarik dan kebodohan merajalela di mana-mana, serta terjadi berbagai bentuk kekacauan di seluruh penjuru bumi. Dan kekacauan dimaksud berbentuk pembunuhan.”20
Demikianlah yang diriwayatkan oleh Imam al Bukhari dan Imam Muslim dari hadits al A’masy.
Ibnu Majah berkata, bahwa Abu Mu’awiyah meriwayatkan kepada kami dari Abu Malik al Asyja’i, dari Rabi’i bin Harasy, dari Hudzaifah bin al Yaman, ia mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah menggambarkan,
“Islam akan berlalu sebagaimana memudarnya warna pada pakaian. Hingga tidak lagi diketahui apa itu puasa, shalat, nusuk (sikap tunduk, patuh), dan tidak pula sedekah. Akan terjadi proses lupa terhadap al Qur’an dalam waktu satu malam dan tidak ada yang tersisa di atas bumi walau hanya satu ayat. Sampai ada suatu golongan dari manusia yang sudah renta, dimana mereka mengatakan, ‘Kami mendapati nenek moyang kami berpegang atas kalimat LA ILAHA ILLALLAH, maka kami pun mengucapkannya.’”
Shalah pun bertanya, “Apakah kalimat La ilaha illallah berguna bagi mereka, sedangkan mereka tidak mengetahui lagi apa itu shalat, puasa, nusuk, dan juga sedekah?” Hudzaifah pun memberikan penjelasan kepadanya secara berulang, hingga ia benar-benar memahami. Dimana, dalam setiap penjelasan ia mendapatkan perlawanan, sampai pada kali ketiga dari penjelasannya ia mengatakan, “Wahai Shalah, kalimat tersebut mampu menyelamatkan mereka dari siksa neraka.”21 Ucapan ini pun diulangnya, sampai Shalah benar-benar bisa memahaminya.
Semua itu menunjukkan, bahwa keberadaan ilmu akan ditarik dari sisi manusia pada akhir zaman, hingga al Qur’an terlupakan, baik yang ada dalam lembaran-lembaran (mushaf) ataupun dari dada manusia. Tinggalla manusia tanpa ilmu agama. Dimana kemudian orang-orang yang telah berusia senja memberitahukan, bahwa mereka pernah menemui suatu masa, yang mana masih ada orang yang bersaksi dengan kalimat La ilaha illallah dan mereka mengucapkan kalimat tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sungguh kalimat tersebut sangat bermanfaat bagi mereka, meskipun mereka tidak mempunyai amal shalih, ilmu yang bermanfaat, dan lainnya.
Sementara perkataan Hudzaifah, “Menyelamatkan mereka dari keabadian siksa neraka,” bisa jadi mengandung makna, bahwa kalimat tersebut mampu membentengi mereka dari kepedihan adzab neraka yang kekal.  Disebabkan pada saat pengucapannya tidak disertai dengan beban kewajiban berupa amal perbuatan yang telah diperintahkan setelah menunaikan kalimat tersebut, wallahu a’lam.
Namun, bisa juga mengandung makna, bahwa kalimat tersebut dapat menyelamatkan mereka dari keabadian adzab neraka setelah mereka memasukinya terlebih dahulu. Dan mungkin, inilah yang dimaksudkan bahwa Allah pernah berkata dalam sebuah hadits qudsi-Nya, “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku sungguh akan mengeluarkan dari neraka orang yang dahulu pernah mengucapkan pada suatu hari kalimat La ilaha illallah.’”22 Sebagaimana akan dijelaskan pada pembahasan di seputar ‘pemberian syafa’at’.
Dan bisa pula mereka itu berasal dari kelompok yang lain, wallahu a’lam.
Dengan kata lain, bahwa ilmu akan ditarik pada akhir zaman nanti sehingga kebodohan menyebar dan mendominasi kehidupan manusia. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits tersebut suatu berita bahwa akan merajalela kebodohan atau umat manusia pada masa itu didominasi oleh kejahilan berupa hasil dari pengkhianatan mereka. Kita berlindung kepada Allah dari mengalami kejadian seperti itu. Kemudian, keadaan akan tetap dan semakin bertambah buruk, hingga kesesatan terjadi di mana-mana dan berakhirlah kehidupan dunia, persis seperti yang tertera dalam hadits yang telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu’alahi wasallam yang jujur lagi dapat dipercaya dala perkataan beliau, “Tidak akan terjadi Kiamat atas seseorang yang berkata La ilaha illallah. Dan tidak akan terjadi Kiamat, kecuali atas sejahat-jahat manusia.”23
______________________________________________
20.       Muttafaqun ‘alaih, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al Bukhari, Jilid 1 hadits nomor 85. Juga oleh Imam Muslim, Jilid 4 bab Ilmu hadits nomor 10. Dan oleh Ibnu Majah, Jilid 2 hadits nomor 4050.
21.       Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Jilid 2 hadits nomor 4049.
22.       Ia yang sejenisnya adalah merupakan bagian dari hadits-hadits syafa’at yang telah diriwayatkan dalam Shahihain dan yang lainnya. Lihat pula kitab Jam’ al Ahadits al Qudsiyah (Jilid 4 Kitab asy Syafa’ah), cet Ar Rayyan li at Turats.
23.       Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Jilid 1 bab Iman hadits nomor 234.
Telah disebutkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Bindar dan Muhammad bin al Mutsanna, dari Ghandar, dari Syu’bah, ia berkata, aku mendengar Qatadah meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia mengatakan: Tidakkah aku riwayatkan kepada kalian sebuah hadits yang telah aku dengar dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, dimana tidak akan ada yang menyampaikan kepada kalian seorang pun sepeninggalku. Yakni, aku mendengar beliau bersabda,
“Sesungguhnya termasuk diantara tanda terjadinya Kiamat adalah ditariknya ilmu agama, kebodohan yang merajalela, tersebarnya perzinaan dan dianggap suatu kelaziman, khamer dijadikan minuman kegemaran, berkurangnya jumlah laki-laki dan semakin mendominasinya kaum perempuan, sehingga lima puluh perempuan hanya mempunyai satu orang pendamping.”19
Diriwayatkan dalam kitab ash Shahihain dari hadits Ghandar.
________________________________
19.       Muttafaqun ‘alaih, sebagaima diriwayatkan oleh Imam al Bukhari, Jilid 1 hadits 81. Juga oleh Imam Muslim, Jilid 4 bab Ilmu hadits nomor 9. Diriwayatkan pula oleh Imam at Tirmidzi, Jilid 4 hadits nomor 2205. Juga oleh Ibnu Majah, Jilid 2 hadits nomor 4045. Dan oleh Imam Ahmad, Jilid 3 hal 176.
Abdullah bin al Mubarak dan para Imam dari para ahli hadits, sebagaimana juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, bahwa Sulaiman bin Dawud an Nahri meriwayatkan kepada kami dari Ibnu Wahab, dari Sa’id bin Abu Ayub, dari Syurahail bin Yazid al Maghazi dari Abu Alqamah, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, dimana beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk umat ini di dalam setiap penghujung seratus tahun seorang pembaharu dalam perkara agama-Nya.”17 Abu Dawud hanya sendiri dalam meriwayatkan redaksi hadits ini. Kemudian ia mengatakan, diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Syuraih dan tidak diperiksa pada Syurahail, dimana berarti riwayatnya menjadi mauquf padanya.
Setiap golongan telah mengadakan pengakuan, bahwa Imam mereka adalah yang dimaksud dalam hadits ini. Yang jelas, wallahu a’lam, bahwa Imam dimaksud bersifat universal dan berfungsi sebagai mobilisator (penggerak) bagi setiap ilmu yang berkembang dan setiap golongan. Juga setiap golongan dari para ulama dan para ahli tafsir, ahli hadits, ahli fikih, ahli nahwu, ahli bahasa, dan dari berbagai golongan lainnya, wallahu a’lam.
Sebagaimana terdapat pula sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dalam hadits yang diriwayatkan dari jalur Abdullah bin Amru. “Bahwa sesungguhnya Allah tidak akan menarik ilmu agama dengan mencabutnya dari manusia, akan tetapi dengan mengambil (mewafatkan) para ulama.”18 Di sini termuat penjelasan, bahwa Allah tidak akan pernah mengambil ilmu dari dada manusia setelah mereka dianugerahi ilmu oleh-Nya.
___________________________________
17.       Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Jilid 4 hadits nomor 4291. Demikian juga dengan al Hakim dalam kitab al Mustadrak dan al Baihaqi dalam kitab al Ma’rifah dan didukung kebenarannya oleh Imam al Albani dalam kitab ash Shahihah miliknya hadits nomor 601, serta dalam kitab Shahih al Jami’
18.       Akan dijelaskan mengenai periwayatan dan statusnya pada catatan kaki nomor 71.
Dalam sebuah hadits disebutkan,
“Akan tetap ada segolngan dari umatku yang menampakkan kebenaran, yang tidak membahayakan bagi mereka orang-orang yang mengkhianati dan menentang mereka, hingga datanglah keputusan Allah dan mereka masih tetap berada dalam konsisi seperti itu.”16
_________________________________  
16.       Diriwayatkan oleh Imam al Bukhari, Jilid 13 hadits nomor 7460, dari jalur Mu’awiyah. Juga oleh Imam Muslim, Jilid 1 bab Iman hadits nomor 247, dari jalur Jabir. Diriwayatkan pula oleh Imam at Tirmidzi, Jilid 4 hadits nomor 2229 dari jalur Tsauban. Dan Ibnu Majah Jilid 1 hadits nomor 7 dari jalur Abu Hurairah.
Telah tersebut dalam kitab Shahih dari Abdullah bin Amru, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda,
“Sesungguhnya ilmu agama tidak ditarik dengan mencabutnya dari manusia. Akan tetapi, ilmu tersebut ditarik dengan diwafatkan-Nya para ulama. Hingga apabila tidak ada lagi ulama, maka manusia mengambil para pemimpin dari orang-orang yang bodoh, dimana mereka ditanya lalu memberikan fatwa tanpa ilmu. Mereka pun tersesat dan menyesatkan.”15
_________________________________
15.       Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam al Bukhari, Jilid 1 hadits nomor 100. Juga oleh Imam Muslim, Jilid 4 bab Ilmu hadits nomor 13. Diriwayatkan pula oleh at Tirmidzi, Jilid 5 hadits nomor 2652. Juga oleh Ibnu Majah, Jilid 1 hadits nomor 52. Dan Imam Ahmad Jilid 2 hal 162.
Imam Ahmad berkata, bahwa Hasan meriwayatkan kepada kami dari Ibnu Lahi’ah, dari Yunus, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, dimana beliau bersabda,
“Janganlah kalian mengharap-harap kematian dan jangan pula kalian berdo’a untuk itu, sebelum ia benar-benar datang dengan sendirinya. Kecuali, apabila orang dimaksud telah yakin dengan amalannya. Karena, apabila seseorang dari kalian telah meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalannya. Dan sesungguhnya bagi seorang mukmin, tidaklah umurnya bertambah melainkan akan menambah kebaikan baginya.”13
Sementara dalil bagi diperbolehkannya mengharap kematian pada saat terjadinya berbagai macam fitnah adalah, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad miliknya dari jalur Mu’adz bin Jabal dalam hadits yang membicarakan mengenai al Manam ath Thawil (tidur panjang), yang mana di dalamnya disebutkan,
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kekuatan untuk melakukan berbagai bentuk kebaikan, meninggalkan kemunkaran, cinta terhadap orang-orang miskin dan agar Engkau mengampuni serta mengasihiku. Apabila Engkau berkehendak menimpakan fitnah atas sebuah kaum, maka matikanlah aku kepada-Mu tanpa terkena fitnah tersebut. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu, serta cinta atas seluruh perbuatan yang mendekatkan aku pada cinta-Mu.”14
Hadits-hadits tersebut sebagai dalil, bahwa akan datang kepada manusia suatu zaman, dimana kondisi manusia kala itu sangat berat dan orang-orang Muslim tidak mempunyai jama’ah yang terdiri di atas kebenaran, baik di semua lapisan bumi ataupun pada sebagiannya.
________________________________
13.       Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Jilid 4 bab Dzikir hadits nomor 3 dari Abu Hurairah. Juga oleh an Nasa’i, Jilid 4 hal 2-3. Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad, Jilid 2, hal 263 dengan redaksi yang sama. Dan diriwayatkan oleh Imam al Bukhari, Jilid 10 hadits nomor 5671. Juga oleh Abu Dawud, Jilid 3 hadits nomor 3108. Dan Ibnu Majah, Jilid 2 hadits nomor 4265, dari hadits Anas bin Malik seperti di atas.
14.       Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Jilid 5 hal. 243. Juga oleh Imam at Tirmidzi, Jilid 5 hadits nomor 3235. Imam at Tirmidzi berkata, bahwa status hadits ini adalah hasan shahih. Pernah ditanyakan kepada Muhammad bin Isma’il (yakni Imam al Bukhari) mengenai status hadits ini, dimana ia mengatakan, “Status hadits ini hasan shahih”
Ibnu Majah berkata, bahwa al Abbas bin Utsman ad Dimasyqi meriwayatkan kepada kami dari al Walid bin Muslim, dari Mu’adz bin Rifa’ah as Salami, dari Abu Khalaf al A’ma, sesungguhnya ia mendengar Anas bin Malik berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya umatku tidak bersekutu di atas kesesatan. Apabila kalian menemukan perselisihan, maka ikutilah kelompok yang lebih banyak (mayoritas).”8 Akan tetapi hadits ini berstatus dhaif karena Mu’adz bin Rifa’ah as Salami telah dilemahkan oleh banyak Imam hadits.
Dalam sebagian riwayat disebutkan, “Hendaklah kalian mengikuti golongan mayoritas dari mereka yang berpedoman pada kebenaran dan para ahli kebenaran.” Yang beliau shallallahu’alaihi wasallam maksudkan adalah mayoritas dari umat Islam yang hidup pada masa-masa awal kerasulan, dimana hampir tidak ada diantara mereka yang melakukan perbuatan bid’ah. Namun, pada masa-masa khalaf [seperti saat ini], bisa saja umat Islam bersekutu dalam perbuatan bid’ah. Sebagaimana memungkinkan, bahwa kebenaran pada zaman-zaman akhir dibuat berdasarkan golongan yang terkuat. Seperti disebutkan dalam hadits riwayat dari Hudzaifah, “Apabila mereka tidak mempunyai Imam dan tidak pula ada jama’ah?” Rasulullah menjawab,
“Tinggalkan semua kelompok yang ada, meskipun engkau harus berpegang teguh dengan pangkal pohon hingga maut mendatangimu, dimana engkau tetap berada di atasnya.”9 Disebutkan juga dalam kitab Shahih, “Islam pada awal kedatangannya dianggap asing dan akan kembali dianggap asing [pada akhirnya].” Dalam riwayat yang berbeda juga disebutkan, “Tidak akan terjadi Kiamat, selama masih ada orang yang berkata, Allah, Allah.”10
Maksudnya adalah, apabila fitnah telah merebak dimana-mana, maka pada saat itu diizinkan untuk meninggalkan komunitas, sebagaimana telah disebutkan dalam hadits,
“Apabila engkau mendapati sifat kikir yag ditaati, nafsu yang diperturutkan, dunia yang diutamakan, dan kekaguman pemilik pendapat terhadap pendapatnya sendiri, maka hendaknya engkau mengurusi urusanmu sendiri dan meninggalkan perkara orang banyak.”11
Imam al Bukhari berkata, ‘Abdullah bin Yusuf meriwayatkan kepada kami dari Malik, dari Abdurrahman bin Ubaidillah bin Abu Sha’sha’ah, dari ayahnya, dari Abu Sa’id, ia mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda,
“Hampir saja kekayaan terbaik bagi seorang Muslim berupa seekor kambing yang digembalakan hingga ke puncak gunung dan tempat-tempat yang terdapat mata air untuk melarikan diri dengan agamanya lantaran terjadinya fitnah.”12
Imam muslim tidak mengeluarkan riwayat tersebut, namun diriwayatkan oleh Abu Dawud, an Nasa’i dan Ibnu Majah dari jalur Ibnu Abu Sha’sha’ah, dimana pada masa itu diperbolehkan meminta (berdo’a) untuk mati pada saat terjadinya berbagai macam fitnah. Padahal berharap mati telah dilarang di luar keadaan tersebut, sebagaimana sandaran haditsnya pun shahih.
_________________________________
8.       Sunan Ibnu Majah, Jilid 2, hadits nomor 3950 dan status hadits ini adalah dhaif.
9.       Yang dimaksud adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, jilid 2 , hadits nomor 3979. Dan hadits yang semakna juga diriwayatkan dalam kitab ash Shahihain secara sempurna.
10.       Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Jilid 1 bab Iman, hadits nomor 34. Juga oleh Imam Ahmad, Jilid 3 hal. 162.
11.       Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Jilid 4, hadits nomor 4341. Juga oleh Imam at Tirmidzi, Jilid 5 hadits nomor 3058, dimana sang Imam mengatakan, bahwa status hadits ini adalah hasan gharib. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah, Jilid 2 hadits nomor 4014, namun dilemahkan oleh Imam al Albani.
12.       Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam al Bukhari, Jilid 1 hadits nomor 19. Juga oleh Abu Dawud, Jilid 4 hadits nomor 4267. Diriwayatkan pula oleh an Nasa’i, Jilid 8 hal. 123-124. Juga oleh Ibnu Majah, Jilid 2 hadits nomor 3980. Dan oleh Imam Ahmad, Jilid 3 hal 6. Lihat pula dalam kitab al Muwaththa’, Jilid 2 bab Isti’dzan hadits nomor 16.

Diriwayatkan [sebuah hadits mengenai pembahasan masalah ini] oleh Abu Dawud, dari Khalid, dari Muhammad bin Amru.
Ia (Ibnu Majah) berkata, ‘Amru bin Utsman bin Sa’id bin Katsir bin Dinar al Humashi meriwayatkan kepada kami dari Iyad bin Yusuf, dari Shafwan bin Amru, dari Rasyidin bin Sa’ad dari Auf bin Malik, ia mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,
“Orang-orang Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu kelompok, dimana satu kelompok berada di dalam surga dan tujuh puluh kelompok lainnya berada di neraka. Orang-orang Nasrani terpecah menjadi tujuh puluh dua kelompok, dimana tujuh puluh satu kelompok berada di neraka. Sedangkan satu kelompok sisanya berada di surga. Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman tangan-Nya, sungguh umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga kelompok, dimana satu kelompok berada di surga dan tujuh puluh dua kelompok akan dimasukkan ke dalam neraka.” Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka yang selamat itu?” Rasulullah menjawab, “Jama’ah”4
Ibnu Majah hanya sendiri dalam meriwayatkan redaksi ini dengan sanad yang tidak bermasalah.
Ibnu Majah juga berkata, bahwa Hisyam (Ibnu Amir) meriwayatkan kepada kami dari al Walid bin Muslim, dari Abu Amru, dari Qatadah, dari Anas bin Malik, ia mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda,
“Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi tujuh puluh satu kelompok dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh dua kelompok, dimana semuanya berada di neraka kecuali satu kelompok.”5
Sanadnya bagus dan kuat atas persyaratan dari pemilik kitab ash Shahih, serta Ibnu Majah juga sendirian dalam meriwayatkan redaksi hadits ini.
Telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits al Auza’i, dari Qatadah, dari Anas dan Abu Sa’id, dimana keduanya mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda, “Akan terjadi perselisihan dan perpecahan dalam tubuh umatku, serta akan ada golongan yang baik kata-katanya, akan tetapi buruk perbuatannya.” [al Hadits]
Abu Dawud berkata, Imam Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Yahya meriwayatkan kepada kami dari Abu al Mughirah, dari Shafwan (ia adalah Ibnu Amru), dari Azhar bin Abdullah al Harari. Imam Ahmad juga berkata dari Abu Amir al Hauzani, dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan, sesungguhnya ia berdiri dan berkata: Bukankah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah berdiri di tengah-tengah kita dan bersabda,
“Ingatlah, bahwa Ahli Kitab (orang-orang sebelum kalian) telah terpecah menjadi tujuh puluh dua kelompok. Dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga, dimana tujuh puluh dua kelompok berada di neraka dan satu kelompok sisanya berada di surga. Dan satu kelompok dimaksud adalah jama’ah.”6
Abu Dawud hanya sendirian dan sanadnya bagus.
Dalam Mustadrak miliknya, al Hakim menyebutkan, bahwa para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengenai kelompok yang selamat. Beliau menjawab, “Orang-orang yang berada di atas jalan, dimana aku dan para sahabatku berjalan di atasnya.”7 Telah disebutkan pada hadits Hudzaifah, bahwa orang-orang yang selamat dari ftnah pada saat terjadinya adalah dengan mengikuti jama’ah dan tetap taat pada sanga Imam.
_____________________________
4. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Jilid 3 hadits nomor 3992 dan didukung kebenarannya oleh Imam al Albani.
5. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Jilid 3 hadits nomor 3393 dan didukung kebenarannya oleh Imam al Albani.
6. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Jilid 4, hadits nomor 4597.
7. Lihat pula dalam Sunan at Tirmidzi, Jilid 5, hadits nomor 2641.
 
Ibnu Majah berkata, bahwa Abu Bakar bin Abu Syaibah meriwayatkan kepada kami dari Muhammad bin Bisyir, dari Muhammad bin Amru, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia mengatakan, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda, “Orang-orang Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu kelompok dan umatku terpecah menjadi tujuh puluh tiga kelompok.”3
____________________________
3.       Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Jilid 2 hadits nomor 3991. Juga oleh Abu Dawud, Jilid 4, hadits nomor 4596. Diriwayatkan pula oleh Imam at Tirmidzi, Jilid 5, hadits nomor 2640. Juga oleh Imam Ahmad, Jilid 2 hal. 232. Imam at Tirmidzi mengatakan bahwa status hadits ini adalah hasan shahih. Dan Imam al Albani menyebutkannya dalam kitab Shahih Ibnu Majah
Dalam kitab shahih disebutkan dari hadits al A’masy, dari Abu Ishaq, dari Abu al Ahwash, dari Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda,
Sesungguhnya Islam itu berawal dengan kondisi asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awal kedatangannya. Oleh karena itu, beruntunglah bagi orang-orang yang dianggap asing.” Ditanyakan, “Lalu siapakah orang-orang yang berada dalam kondisi terasing itu?” Beliau menjawab, “An Nazaih (orang-orang yang jauh) dari mengagung-agungkan kesukuan.”2
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dari Jalur Anas dan Abu Hurairah.
_____________________________
2.       Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim, Jilid 1 bab Iman, hadits nomor 232. Juga oleh at Tirmidzi, Jilid 5, hadits nomor 2629. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah, Jilid 2, hadits nomor 3986. Juga oleh Imam Ahmad, Jilid 2 hal 389. Kata thuba bermakna baik dan bagus, serta merupakan penafsiran dari kata surga dan pohon yang berada di surga. Sedangkan kata an nazaih dalam riwayat Ibnu Majah diungkapkan dengan redaksi an nazza. Yakni, yang dimaksud dengan orang-orang asing di sini adalah mereka yang sengaja meninggalkan keluarga dan kerabat demi mencari keridhaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar