Tanda-tanda Akhir Zaman

Hari kiamat itu mempunyai tanda, bermulanya dengan tidak laris jualan di pasar, sedikit saja hujan dan begitu juga dengan tumbuh-tumbuhan. Ghibah menjadi-jadi dan merata-rata, memakan riba, banyaknya anak-anak zina, orang kaya diagung-agungkan, orang-orang fasik akan bersuara lantang di masjid, para ahli mungkar lebih banyak menonjol dari ahli haq.Wallahu'alam Bish-shawab


Selasa, 13 Oktober 2015

Sejarah Pembangunan Ka'bah


Sejarah Pembangunan Ka'bah

Ka’bah adalah rumah ibadah pertama yang dibangun di muka bumi, hal ini ditegaskan dalam Surat Ali Imran ayat 96-97:  "Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) Maqam Ibrahim....” (QS Ali Imran [3]: 96-97)
Ayat ini diterangkan oleh para ulama sebagai bantahan Allah SWT kepada kaum ahli kitab yang mengatakan bahwa awal mula rumah ibadah yang diciptakan adalah Baitul Maqdis atau Aqsha. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abi Dzar, Rasulullah saw menyatakan bahwa perbedaan waktu dibangunnya Baitullah di Mekah dengan Baitul Maqdis di Yerusalem adalah empat puluh tahun. Ayat ini juga menjadi hujjah atau alasan bagi para ulama yang berpendapat bahwa yang pertama mendirikan Ka’bah adalah para malaikat, bukan manusia.
Surat Ali Imran ayat 96-97 tadi juga menjadi dalil bahwa yang pertama kali membangun Ka’bah adalah para malaikat. Buktinya dalam kalimat Al-Qur'an tadi menggunakan kalimat "untuk (tempat ibadah) manusia” وَضَعَ لِلنَاسِ
Ini berarti Ka’bah sudah ada sebelum manusia ada, karena diperuntukkan manusia. Berarti sangat jelas bahwa yang membangun Ka’bah pertama kali bukanlah manusia, melainkan para malaikat. Posisi Ka’bah ini berada tepat sejajar dengan Baitul Makmur di 'Arsy yang dijadikan tempat tawafnya para malaikat. Bahkan, Imam Al-Azraqi mengatakan, jika Baitul Makmur (di ‘Arsy) runtuh maka akan menimpa Baitullah (di Mekah).
Seorang sejarawan Mekah, Imam Al-Azraqy, mengisahkan, suatu hari selepas tawaf, tepat di dalam Hijir Ismail, Muhammad bin Ali bin Husain mengatakan, ayahnya menerangkan kepada seorang penduduk Syam bahwa awal mula tawaf di Baitullah adalah ketika Allah berfirman kepada malaikat, "Aku akan menjadikan khalifah di muka bumi." Para malaikat langsung protes, karena Allah menciptakan khalifah bukan dari bangsa mereka (malaikat) melainkan dari bangsa manusia yang mereka anggap hanya akan mengotori dan menumpahkan darah. Kernudian, Allah menjawab, "Aku lebih mengetahui apa yang kalian tidak ketahui!"
Dari jawaban itu, para malaikat menganggap Allah murka atas mereka yang protes, kemudian mereka menangis tersedu-sedu sambil berkumpul di 'Arsy dan merendahkan diri sambil bertawaf (di 'Arsy). Sambil bertawaf, para malaikat membaca:
"Aku penuhi panggilan-Mu Ya Allah, Ya Tuhan kami, kami meminta ampunan kepada-Mu, dan kami bertobat kepada-Mu."
Allah kemudian melihat mereka. Setelah Allah turunkan rahmat kepada mereka, kemudian Allah menciptakan sebuah rumah yang berada tepat di bawah 'Arsy. Allah mengatakan kepada malaikat, "Tawaflah kamu semua di tempat ini dan tinggalkan 'Arsy!" Bagi para malaikat, perkara ini lebih mudah daripada bertawaf di 'Arsy yang merupakan Baitul Makmur.
Kemudian, Allah mengutus para malaikat dan berfirman kepada mereka, "Bangunlah sebuah rumah yang serupa dan sebesar itu di bumi." Allah memerintahkan pula kepada penduduk bumi untuk bertawaf di tempat itu. Atiq bin Ghaits menggambarkan bahwa Malaikat Jibril memukulkan sayapnya ke bumi, kemudian muncullah fondasi yang mirip dengan tempat tawafnya para malaikat. Fondasi itu menancap kokoh ke bumi. Kemudian, para malaikat melemparkan batu-batu yang beratnya tidak akan sanggup dipikul oleh 30 orang sekalipun.
Bentuk dan besar ukuran antara tempat ibadah para malaikat, Baitul Makmur, dan Baitullah yang di Mekah yang dibangun Nabi Ibrahim juga sama persis, mulai dari ukuran hingga bentuknya. Dalam riwayat Al-Azraqy dari Ibnu Juraij, Imam Ali bin Abi Thalib pernah menggambarkan bahwa posisi Baitullah yang dibangun pilarnya oleh Nabi Ibrahim, adalah basil tuntunan awan yang turun laksana mendung. Di tengah-tengah awan itu terdapat kepala dan berbicara kepada Nabi Ibrahim, "Ambillah ukuranku pada bumi jangan lebih dan jangan kurang." Barulah Ibrahim menggaris di tanah, dan itulah yang disebut Bakkah, sedang apa yang ada di sekelilingnya adalah Mekah.
(HR Al-Azraqy)

B. Nabi Adam dan Nabi Shith
Menurut Abdurrazzaq, diterima dari Ibnu Juraij dari Atha dan Ibnu Musayyab bahwa sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepada Nabi Adam ketika turun dari surga ke muka bumi. Dari kisah yang diabadikan dalam Al-Qur`an, Adam dan Hawa tertipu oleh tipu daya setan dengan melanggar ketentuan yang telah diperintahkan Allah kepada mereka berdua untuk tidak mendekati sebuah pohon. Namun Nabi Adam melakukannya dan Allah marah sehingga ia diusir ke bumi. Hal ini dikisahkan dalam Al-Qur`an surat Al-Baqarah [2]:  35-37
Ada yang menamakan pohon khuldi sebagaimana tercantum dalam Surat Thaha ayat 120, padahal itu adalah nama yang diberikan setan. Adam dan Hawa dengan tipu daya setan memakan buah yang dilarang itu, dan mengakibatkan keduanya dikeluarkan dari surga oleh Allah SWT. Yang dimaksud dengan setan di sini ialah iblis. Tentang beberapa kalimat dari Allah SWT yang diterima oleh Adam, sebagian ahli tafsir mengartikannya dengan kata-kata untuk bertaubat. Kisah pertaubatan Adam itu kemudian disambung dalam surat Al-A'raf [7] ayat 22-23.
Dengan kesungguhan taubat dan penyesalan yang tinggi, Adam dan Hawa turun ke bumi. Mereka mengakui telah tergoda oleh setan dan meyakini betapa beruntungnya mereka mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Allah berkata kepada Adam, "Buatlah untuk-Ku rumah dan beribadahlah padanya sebagaimana engkau lihat para malaikat beribadah di langit."
Kemudian, dikisahkan oleh Atha', sesampainya di bumi, Adam membangun rumah itu dari lima buah gunung, yaitu Haro, Tursina, Libanan, Judy, dan Turzeta. Imam Mawardi menambahkan bahwa Nabi Adam membangun Baitullah seperti ia lihat di 'Arsy dengan dibantu oleh Malaikat Jibril untuk memindahkan bebatuannya yang sangat berat (bahkan tidak sanggup dipikul oleh 30 orang). Adam adalah orang pertama yang melakukan shalat dan tawaf di sana. Hal ini dilakukan terus-menerus oleh Adam hingga Allah SWT mendatangkan angin topan yang menyebabkan lenyapnya bangunan Ka'bah tersebut. Yang tersisa hanya fondasi dasarnya.
Dalam kitab Al-Ma'arif, Ibnu Qutaibah menerangkan bahwa sepeninggal Adam, yang memakmurkan dan membangun Baitullah atau Ka'bah adalah Nabi Shith, anak laki-laki Nabi Adam.

C. Nabi Ibrahim dan Ismail
Saat Ismail dalam proses pertumbuhan menjadi dewasa, Ibrahim sering menjenguknya dari Palestina. Suatu hari, Nabi Ismail diajak berdialog oleh Nabi Ibrahim, "Sesungguhnya Allah telah menyuruhku untuk melakukan sebuah pekerjaan." Ismail kemudian menyahut dengan kalimat, "Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan Allah."
"Apakah engkau akan membantunya?" tanya Nabi Ibrahim.
Ismail menjawab, "Aku siap untuk membantu."
"Sesungguhnya Allah ta'ala telah memerintahkan aku untuk membangun rumah di sini," tutur Ibrahim sambil menunjuk sebuah bukit yang kini menjadi Masjidil Haram.
Dikisahkan oleh Imam Thabari, Nabi Ibrahim dibantu malaikat (Jibril). Ibrahim bertanya kepada Jibril, "Apakah di tempat ini aku diperintahkan membangun rumah Allah itu?" Kemudian Jibril menjawab, "Benar di tempat itu!"
Setelah itu, jadilah fondasi yang pernah dibangun Nabi Adam yang merupakan petunjuk Allah lewat malaikat-Nya kembali ditemukan Nabi Ibrahim setelah berabad-abad lamanya tidak dipelihara (sepeninggal Nabi Shith, anak laki-laki Nabi Adam). Bahkan, telah menjadi tandus dan tiada tanda-tanda kehidupan. Nabi Ibrahim dan Ismail akhirnya membangun sebuah rumah di atas fondasi tersebut.
Ismail bertugas membawa batu dan Ibrahim yang menyusunnya. Ketika susunan batu semakin tinggi, Ismail membawakan sebuah batu untuk dipijak oleh Ibrahim. Batu inilah yang kemudian diabadikan dengan mama "Maqam Ibrahim". Ismail terus mengambilkan batu dan diberikan kepada Ibrahim. Kemudian, Ibrahim menyusun batu-batu tersebut dengan berpijak pada batu yang disediakan Nabi Ismail tadi.
Ketika Nabi Ibrahim dan Ismail sampai penyelesaian akhir dari sudut (rukun) bangunan Baitullah, dan hanya tinggal satu bagian lagi belum tertutup, Nabi Ibrahim kemudian berkata "Wahai anakku, ambillah satu batu yang memberikan daya tarik bagi manusia." Kemudian Ismail memberikan sebuah batu. Ibrahim berkata "Bukan batu seperti itu yang aku maksud." Ismail pun mencari lagi batu-batu yang istimewa seperti yang dipinta ayahnya. Saat Ismail sudah membawa batu temuannya, ternyata Nabi Ibrahim sudah memasangkan di bagian itu sebuah batu yang Ismail mengetahuinya. Kemudian, Ismail bertanya ke ayahnya, "Wahai ayahku, siapakah gerangan memberikan batu itu kepadamu?" Ibrahim kemudian menjawab, "Telah datang kepadaku Malaikat dari langit memberikan batu itu." Batu itulah kemudian dikenal dengan HajarAswad yang posisinya tepat di sudut (rukun) dekat pintu Ka'bah. Selesai membangun Ka'bah, Allah SWT menurunkan Surat Al-Baqarah ayat 127-129.
Bangunan Baitullah yang dibuat oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail memiliki tinggi bangunan 9 (sembilan) hasta, panjangnya dari Hajar Aswad hingga Rukun Syami adalah 32 hasta, lebarnya dari Rukun Syami ke Rukun Gharbi 22 hasta, panjang dari Rukun Gharbi ke Rukun Yamani 31 hasta, dan lebar dari Rukun Yamani ke Hajar Aswad adalah 20 hasta. Rukun yang dimaksud di sini secara harfiah artinya sudut atau pojok.
Nabi Ibrahim membuat pintu Ka'bah sejajar dengan tanah dan tidak dibuatkan daun pintunya. Pintu Ka'bah baru dibuat oleh Tuba Al-Humairi, seorang penguasa dari Yaman, dan pintunya ditinggikan dari tanah. Selain bangunan kotak Ka'bah, sejak Nabi Ibrahim telah dibentuk batu melingkar yang tidak ada rukun-nya. Batu melingkar inilah yang disebut Hijir Ismail. Ada yang mengatakan bahwa Nabi Ibrahim membangun Baitullah ini dalam usianya yang ke-100 tahun. Wallahu a'lam.

D. Pembangunan Ka'bah oleh Suku-suku Arab
Sepeninggal Nabi Ibrahim, dikisahkan Ka’bah pernah rusak dan pernah dibangun kembali oleh suku bangsa Amaliqah. Namun tidak banyak referensi yang menguatkan peristiwa ini sehingga tidak ada yang bisa menerangkan secara rinci ihwal bangunan Ka'bah pada masa ini.
Imam Mawardi menerangkan setelah dibangun oleh bangsa Amaliqah, dalam perjalanan waktu kemudian, Ka'bah terkena banjir besar dari dataran tinggi Mekah yang mengakibatkan rusaknya dinding Ka'bah meskipun tidak roboh. Suku Jurhum-lah yang kemudian membangunnya kembali seperti sedia kala dengan menambah bangunan di luar Ka'bah untuk penahan luapan air bila terjadi banjir kembali.
Setelah Bangsa Jurhum berlalu, Ka'bah kemudian sampai ke tangan Qushay bin Kilab. Ia adalah seorang pemuka dari suku bangsa Quraisy. Qushay-lah yang pertama kali membangun atap Ka'bah. Ia membuatnya dari kayu dum dan pelepah kurma. Sepeninggal Qushay, bangsa Quraisy mulai mengurusi Ka'bah. Bangsa Quraisy adalah suku bangsa dan keluarga dari Nabi Muhammad saw.
Ketika Rasulullah saw menginjak dewasa (35 tahun), ada seorang wanita membuat percikan api dari tungku yang mengakibatkan kebakaran pada bangunan Ka'bah. Bangsa Quraisy merobohkannya kemudian membangunnya kembali. Di saat akan memasang kembali Hajar Aswad, suku-suku kecil Bangsa Quraisy terlibat pertentangan, karena merasa paling berhak untuk mengambil tugas itu. Karena perselisihan tidak bisa diredakan, mereka bermusyawarah membuat sebuah kesepakatan siapa yang pertama kali masuk Baitullah dari pintu Bani Syaiba, dialah yang paling berhak untuk meletakkan Hajar Aswad di bangunan Ka'bah.
Yang memenangi sayembara itu ternyata Muhammad (Rasulullah saw). Meskipun beliau yang berhak untuk meletakkan Hajar Aswad, beliau memutuskan untuk mengerjakan bersama-sama agar masing-masing suku Quraisy tetap merasa dihargai dan memiliki kewenangan yang sama.
Dari sinilah Muhammad dikenal sebagai pribadi yang bijaksana dan bisa dipercaya. Muhammad segera membentangkan kain yang semua ujungnya dipegang oleh para pimpinan Suku Quraisy. Hajar Aswad diletakkan di tengah-tengah kain dan dibawa bersama-sama. Kemudian Muhammad memasangkan Hajar Aswad tersebut ke tempatnya semula.
Saat itu, Bangsa Quraisy membangun enam tiang di dalam Ka'bah dengan posisi dua jajar. Atas usulan seorang tokoh, Hudzaifah bin Mughirrah, Ka'bah ditinggikan pada bagian pintunya. Mughirrah ingin agar bangunan Ka'bah dilengkapi dengan tangga dan hanya dimasuki oleh orang-orang yang disukai. Bila ada orang yang tidak disukai masuk Ka'bah, masyarakat bisa melemparinya dan berarti Ka'bah akan aman dan terbebas dari orang-orang yang tidak disukai oleh Bangsa Quraisy. Dari usul ini, kemudian ketinggian Ka'bah berubah dari 9 hasta menjadi 18 hasta.
Sejak masa pembangunan oleh Suku Quraisy, bangunan asli Ka'bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim mengalami penyempitan hingga bentuknya seperti yang kita lihat sekarang. Penyempitan itu terjadi di daerah Rukun Syami, sehingga membuat Hijir Ismail tidak lagi masuk dalam lingkaran Ka'bah. Hijir Ismail seolah-olah berada di luar bangunan Ka'bah. Hal ini dikuatkan melalui Hadits Nabii Muhammad saw.
Barangsiapa yang ingin melaksanakan shalat di dalam Ka'bah meskipun pintunya ditutup rapat, ia bisa melaksanakannya di dalam Hijir Ismail. Seperti yang diperintahkan Rasulullah saw kepada Siti Aisyah.

E. Pasca Zaman Nabi Muhammada SAW.
Pada zaman Dinasti Yazid bin Mu'awiyah, bangunan Ka'bah mengalami kebakaran lagi. Sampai datang musim haji tahun itu, Ka'bah belum direnovasi. Ketika kaum muslimin berkumpul di depan Ka'bah, Abdullah bin Zubair berpidato sambil meminta pendapat hadirin, "Apa yang harus kita lakukan dengan Ka'bah ini?" Kemudian Ibnu Abbas mengusulkan agar segera dirobohkan dan dibangun kembali. Namun, Ibnu Zubair menyanggahnya dengan kalimat, "Aku akan melaksanakan shalat istikharah." Setelah Ibnu Zubair shalat istikharah, barulah Ka'bah dirobohkan untuk dibangun kembali.
Diriwayatkan, ketika membongkar bangunan Ka'bah, Ibnu Zubair melihat ada batu-batu berwarna merah yang merupakan batu asli yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Ismail. Batu-batu tersebut digambarkan seperti leher-leher unta. Selain itu, dalam penggaliannya ditemukan sebuah kuburan yang diyakininya sebagai kuburan Siti Hajar, ibunda Ismail.
Al-Azraqy juga meriwayatkan ada sebuah kejadian luar biasa pada saat itu, yaitu ketika Abdullah bin Mu'thi Al-Adawi meletakkan sebuah tongkat yang dipegangnya pada salah satu sudut Ka'bah, lalu seluruh sudutnya bergerak dan dindingnya bergetar hingga seluruh kota Mekah ikut bergetar. Orang-orang terkejut dan merasa cemas, namun Ibnu Zubair hanya mengatakan, "Saksikanlah!" Lalu, Ibnu Zubair membangunnya di atas fondasi yang telah ada sambil membuat dua pintu yang rata dengan tanah dan sejajar dengan pintu pertama.
Ibnu Zubair akhirnya menambahkan tinggi bangunan Ka'bah menjadi 27 hasta. Tebal dindingnya 2 hasta, di dalamnya dibuat tiga tiang penyangga, bukan enam seperti yang telah dibuat kaum Quraisy sebelumnya. Ibnu Zubair mendatangkan batu marmer dari Yaman dan dibuat ventilasi untuk lubang udara dan cahaya. Dibuat juga dua buah daun pintu sepanjang 11 hasta serta sebuah tangga kayu untuk naik ke atap Ka'bah. Dindingnya diberi wewangian dari za'faran serta menutupnya dengan kain (kiswah) yang dibuat oleh suku Qibthi (Mesir). Diriwayatkan bahwa Ibnu Zubair telah menghabiskan 100 unta untuk menyelesaikan pembangunan ini. Setelah selesai dibangun, Ibnu Zubair melaksanakan tawaf dan mengusap semua sudut bangunan Ka'bah yang baru. (HR Al Azraqy)
Sekitar tahun 1039 H, turun hujan lebat di kota Mekah. Banjir besar di Masjidil Haram tidak bisa dibendung lagi, bahkan sampai mengakibatkan dinding Rukun Syami runtuh. Atas perintah Sultan Murad Khan, kemudian Ka'bah dibangun kembali, dan selesai pada tanggal 2 Dzulhijjah 1040 H. Pembangunan ini memakan waktu enam setengah bulan. Inilah pembangunan Ka’bah terakhir hingga bentuknya seperti sekarang yang kita lihat. Pintunya dinaikkan ke atas, dan Hijir Ismail tetap berada di luar bangunan kotak Kab’bah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar