Tanda-tanda Akhir Zaman

Hari kiamat itu mempunyai tanda, bermulanya dengan tidak laris jualan di pasar, sedikit saja hujan dan begitu juga dengan tumbuh-tumbuhan. Ghibah menjadi-jadi dan merata-rata, memakan riba, banyaknya anak-anak zina, orang kaya diagung-agungkan, orang-orang fasik akan bersuara lantang di masjid, para ahli mungkar lebih banyak menonjol dari ahli haq.Wallahu'alam Bish-shawab


Jumat, 08 Agustus 2014

IFSAD TERAKHIR


Makna ayat 4-7 dari surah Al Isra. Ayat-ayat tersebut menginformasikan kehancuran bangsa Israel (Yahudi) untuk beberapa waktu mendatang. Ramalan Al-Qur'an ini telah dirilis langsung oleh Taurat (kitab suci agama Yahudi) jauh sebelum Al-Qur'an mengabadikannya. 

Karena itu, Sayyid Qutub memberi komentar cukup menarik. Beliau berkata, "Keputusan ini berdasarkan ilmu Allah yang azali. Ia merupakan sinyal awal yang bakal menimpa bangsa Israel. Bukan berarti takdir memaksa mereka untuk berbuat ifsad (kerusakan) lantas Allah timpakan akibatnya. Allah sama sekali tidak pernah menggariskan dalam takdir-Nya hal-hal yang buruk {Qul Innallãha lã ya'muru bilfahsyã'}, "Katakanlah! Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan hal-hal yang jelek & jahat". Tetapi, Allah SWT ingin mendial umat manusia, bahwa hal itu akan terjadi karena ia punya wujud. Tentu lewat penampakkan karakter busuk Yahudi dari masa ke masa. Maka, sesuatu yang bakal terjadi –menurut ilmu Allah– berarti ia punya wujud, walaupun menurut prediksi manusia mustahil terjadi".

Beliau juga menambahkan, "Dalam Taurat disebutkan, bahwa bangsa Israel kelak berbuat kerusakan di bumi sebanyak dua kali. Mereka berlaku sewenang-wenang. Menjajah dan menindas penduduk tanah suci Palestina (Quds). Setiap kali punya kesempatan berkuasa, power tersebut dijadikan wasilah untuk merusak tatanan masyarakat yang telah mapan dan tertata baik. Lalu, dengan izin Allah muncul sekelompok umat yang dapat mengalahkan mereka. Kondisi akhirnya berbalik, mereka diintimidasi, dikejar-kejar, dibasmi dan dibantai (Holocaust)".

Dengan informasi langsung dari Allah SWT ini, hati menjadi terhibur, emosi membara sedikit mereda oleh siraman sejuk ayat-Nya. Dibalik ketidakberdayaan umat atas kezaliman yang setiap saat disaksikan, ternyata menyimpan ke-Maha-adilan Allah. Belakangan kita akan sadar, bahwa episode akhir dari kesewenang-wenangan itu akan mencapai klimaks, kemudian berbalik menjadi ending mengerikan bagi para pelaku durjana. Komplotan bandit-penyamun (Israel—Yahudi—Zionis) akan divonis hukum oleh Allah seiring dengan skenario yang mereka ciptakan sendiri. Konkritnya, nestapa yang menimpa bangsa Palestina harus terjadi, karena ia dapat dikatakan sebagai syarat menentukan bagi terwujudnya janji Allah.

Mungkin ada yang protes, skenario sejarah seperti itu telah berlalu. Bangsa Yahudi sudah sangat familiar dengan derita kolektif. Azab demi azab telah mereka lalui sepanjang sejarah, sehingga kurang tepat memutar mundur jarum jam sejarah kembali ke era Holocaust dahulu. Apalagi realita menunjukkan pengaruh hegemoni mereka terasa hingga ke ujung dunia manapun. Sulit membayangkan wujud ramalan itu menjadi nyata. 

Untuk menanggapi hal ini, ada baiknya kita baca kembali ayat-ayat di atas. Bila diamati lebih dalam, kita akan menangkap bahwa Al-Qur'an membatasi kerusakan akibat ulah mereka dalam dua kategori, (1) IFSAD PERTAMA (الأولى) dan (2) IFSAD TERAKHIR (الآخرة). Pada kategori kedua Al-Qur'an tidak menyebutnya Ifsad - الثانية tetapi ia sebut Ifsad - الآخرة. Dengan ungkapan pertama dan terakhir menunjukkan, bahwa kategori terakhir dapat terjadi berulang kali, tidak hanya sekali atau dua kali. Hipotesa ini didukung oleh bukti sejarah. 

Sejarah mencatat, kerusakan tidak akan mendunia kecuali setelah mereka berkuasa dan memiliki hegemoni luas. Dunia baru akan heboh ketika mereka telah menghimpun komunitas bangsanya dalam sebuah 'negara', di mana Ifsad telah dikoordinir dalam bentuk mafia raksasa terselubung. Masyarakat dunia dikelabui dan dihipnotis dengan jargon kemanusiaan, perdamaian serta demokrasi & kebebasan (freedom). Dengan demikian, mereka bisa leluasa mengobok-obok dan menghancurkan umat (bangsa) lain. Aksi biadab mereka berpengaruh luas dan dapat dirasakan oleh penduduk bumi secara global. 

Kalau kita riilkan dengan kondisi saat ini, maka pembantaian rakyat Palestina, penyerbuan Afganistan, kemudian Irak menjadi bukti konkrit, di mana aksi mereka telah menuai badai kecaman dunia. Sebuah respon normal yang menunjukkan kegelisahan masyarakat dunia. Dunia terusik dengan tindakan barbar yang tidak lagi mengindahkan aturan sebagaimana disepakati secara internasional, sehingga mereka melakukan protes dalam bentuk demonstrasi. Itulah rahasia firman Allah {latufsidunna fil ardhi}, yaitu 'bumi yang dihuni oleh masyarakat dunia'. 

Sepanjang sejarah, etnis Yahudi baru dua kali mendirikan negara. Pertama, ketika berhasil keluar dari Gurun Tĩh Sinai. Mereka masuk bumi Palestina, lalu mendirikan 'negara'. Pemerintahan saat itu dipimpin Nabi Daud as. Ketika beliau wafat tampuk pemerintahan diambil alih anaknya yang juga seorang Nabi bernama Sulaiman as. 

Pada awalnya, Bani Israel tidak mudah memasuki Palestina. Mereka harus menghadapi serangan demi serangan dari kaum pribumi asli turunan Kan'an. Sejarah merekam, Yasyũ berhasil memenangkan pertempuran tidak lepas dari tiga faktor, (1) Adanya perpecahan antar sesama kabilah Kan'an yang terdiri dari kabilah Palestin, kabilah Yabũs dan kabilah Muãbĩn, (2) Kegigihan Bani Israel untuk maju memenangkan pertempuran. Mereka berprinsip 'lebih baik mati dalam pertempuran dari pada terusir kembali ke gurun Tĩh yang sangar & keras, (3) Mereka menggunakan taktik atau siasat perang bumi hangus yang sangat brutal. Kebrutalan dan kekejian mereka waktu itu, persis seperti yang kita saksikan saat ini di Palestina. Satu-satunya etnik yang menorehkan secara kolosal kebrutalan dalam sejarahnya dari dulu hingga kini.

Untuk era modern, kebrutalan & hukum rimba itu kembali mereka perankan di semua kota Palestina. Mulai Hifã, Yãfã, 'Akkã, Dĩr-Yãsin, Ramallah, Jenin, Khalĩl, Nãblus, Tũlkarim, Betlehem, Arihã hingga Gazza & Rãfah, semuanya adalah kota-kota Palestina yang menjadi saksi bisu atas aksi sadisme Yahudi. 

Dengan menerapkan taktik perang bumi hangus, maka orang Yahudi dapat mendirikan negara pertama di atas puing-puing kehancuran etnis pribumi pada tahun 1220 SM. Namun demikian, mereka tidak mampu mengusir habis atau menghilangkan eksistensi penduduk asli. Tak seorang Nabi pun yang diutus tanpa mereka jahili. Hingga tiba era kekuasaan Nabi Daud as di tahun 1016 SM, kemudian dilanjutkan Nabi Sulaeman as. Pada era dua raja Agung ini kehidupan terjamin aman dan sejahtera. Oleh karena keduanya menerapkan disiplin tegas dalam memerintah Bani Israel. Kedisiplinan itu juga ditopang dengan berbagai kelebihan (mukjizat), seperti bisa menundukkan semua manusia, binatang, jin dan bahkan syetan.

Konon, era Daud & Sulaeman merupakan puncak keemasan bangsa Yahudi. Mereka sangat bangga mengenang masa itu. Karenanya, ia dicatat sebagai era hegemoni global etnik Yahudi. Dunia dapat dikuasai dari sungai Nil (Mesir) hingga sungai Efurat (Irak). Berangkat dari kejayaan masa lalu, maka kebijakan politik jangka panjang telah dipatenkan dalam Undang-Undang Dasar mereka, yang kita kenal dengan slogan, 'Mendirikan Israel Raya dari Nil hingga Efurat'. UUD itu wajib diperjuangkan oleh siapa saja yang memimpin bangsa Yahudi. Peta kekuasaan yang merujuk sejarah masa silam, masih sangat debatable dan tidak berpijak pada alasan rasional apalagi otentik.

Kekuasan dua Nabi ini hanya mampu bertahan dalam kurun waktu kurang dari 80 tahun. Belum lagi Sulaeman as wafat, negara itu telah pecah dibagi dua oleh anaknya. Negara Yahudã di selatan dan negara Israel di utara. Setelah perpecahan itu, mulailah babak baru perseteruan antara Utara—Selatan. Tidak jarang sengketa berakhir dengan pertempuran berdarah. Di kala kerusakan & kejahatan telah merajalela, wilayah kekuasaannya berubah menjadi lokalisasi tindak asusila. Pemerkosaan, penyembelihan, menampung para narapidana asing dan tempat aman bagi pelarian gembong penjahat kelas kakap. Kondisi instabilitas ini sangat mengusik ketenangan bangsa dan umat yang ada di sekitarnya.

Untuk itu, beberapa negara tetangga berinisiatif menghancurkan dan melenyapkannya. Mereka dianggap sebagai parasit yang menjadi sarang & sumber kerusakan. Bangsa Asyũriah Damaskus akhirnya menyerbu kerajaan Israel, mengepung dan memboikotnya selama 18 bulan, hingga kerajaan itu menyerah dan dikuasai pada awal tahun 721 SM. Secara geopolitik Israel lenyap dari peta. Lalu, bangsa Asyũriah memaksa orang-orang Yahudi yang ada untuk hijrah ke wilayah timur, kemudian menggantikannya dengan penduduk etnik lain. Dengan demikian lenyap pula eksistensi masyarakat Yahudi dalam sejarah. Mereka berbaur total dengan masyarakat di lokasi asing.

Adapun kerajaan Yahudã di selatan telah dihancurkan pula oleh raja Bukhtanashãr dari Babilonia. Raja Yahudã bernama Yuwãqim ditawan bersama 10.000 tokoh masyarakatnya, seperti Nabi Hazqiyãl. Dan terakhir Al Quds dirobohkan pada tahun 597 SM. 

Berbagai azab menimpa para pendurhaka itu sangat gamblang terpampang jelas dalam Al-Qur'an. Allah SWT memperlakukan mereka sesuai dengan Kemaha-adilan-Nya. Dengan izin-Nya sekelompok bangsa bengis menguasai mereka. Lalu dibantai, dijarah, diperkosa, dijadikan budak setelah rumah-rumah mereka dihancurkan. Itulah bangsa Babilonia di bawah pimpinan raja Bukhtanashãr. Sejak saat itu, jati diri mereka lenyap, tak punya nama dan tak punya suara. 

Hingga di era abad 20-an, kita mendengar dan menyaksikan konsolidasi persatuan mereka yang berujung pada berdirinya sebuah 'Negara'. Dengan iklan propaganda 'Kembali ke tanah yang dijanjikan', mereka terus menyiapkan segala hal yang akan menjadi sebab kehancurannya. Mereka bersatu padu di tengah perpecahan kita. Mereka kuat dan kita lemah tak berdaya. Sungguh penulis betul-betul sadar, bahwa kita semua sedang dikondisikan Allah untuk siap menyaksikan pembuktian firman-Nya {tsumma radadnã lakumul karrata 'alaihim}. Kerusakan pertama telah berlalu seiring berdirinya negara pertama mereka. Lalu dihancurkan hingga eksistensi mereka tercerabut untuk beberapa masa lamanya.

Pada kali terakhir, Allah SWT ingin memenuhi janji-Nya untuk menimpakkan kehancuran berikutnya. Maka dilapangkan jalan kekuasaan bagi mereka. Diberi giliran untuk mengalahkan bangsa/umat di sekitarnya. Pada fase kedua ini, Allah memberi sinyal, bahwa kekuatan mereka akan ditopang oleh tiga unsur, (1) Kekayaan, (2) SDM yang cerdik pandai, dan (3) Persenjataan. Tiga unsur ini direfleksikan Allah SWT dalam ayat-Nya {wa amdadnãkum bi amwãlin wa banĩna waja'alnãkum aktsara nafĩran}, "Kami bantu kalian dengan kekayaan dan anak-anak serta Kami jadikan kalian kelompok yang lebih besar".

Bila kita riilkan ayat tersebut dengan kondisi faktual yang berkembang di masa kini, maka sungguh mencengangkan. Tidak ada yang meleset dari firman-Nya. Allah SWT kembali memberi giliran pada bangsa Yahudi untuk berkuasa (al-Karrah). Hegemoni global ini dapat dilihat melalui lobi Yahudi internasional yang menguasai pos-pos strategis hampir di seluruh lini kehidupan. Mereka berhasil mendirikan negara Israel. Hampir semua peristiwa global & regional berjalan sesuai skenario mereka. Bantuan gratis dan hibah finansial mengucur deras dari berbagai negara dan kalangan bahkan dari musuh mereka sendiri. Lembaga keuangan internasional semisal IMF (International Moneter Financial) berhasil mereka susupi dan kuasai. Professional memenej keuangan, menciptakan sistem & perangkat canggih ribawi hingga kekayaan seluruh dunia dapat mengalir dengan mudah ke kantong-kantong usaha mereka. Semua itu membuktikan keakuratan firman-Nya yang suci {wa amdadnãkum bi amwãlin}.

Demikian halnya eksodus besar-besaran para imigran Yahudi ke bumi Palestina. Mayoritas imigran itu adalah kawula muda yang berusia produktif, pakar ilmuan dan memiliki spesialisasi garapan yang masih langka. Seperti ilmu Atom, Kimia, Fisika, Matematika dan lain-lain. Ini juga membuktikan aprofalisasi ayat Allah {wa banĩna}. 

Sedangkan keunggulan dari sisi militer dapat dilihat dari kemampuan mereka menciptakan senjata/bom canggih berdaya ledak dahsyat (high explossive). Seperti nuklir yang jadi momok menakutkan bagi masyarakat dunia. Kenyataan ini telah diidentifikasi oleh firman-Nya {waja'alnãkum aktsara nafĩran}. Kata an-Nafĩr menurut sebagian ulama tafsir artinya, 'peralatan perang'.

Karena itu dapat disimpulkan, bahwa sejarah kembali berulang. Namun demikian, ada satu hal yang berbeda dan baru dari kenyataan ini, yaitu para imigran tersebut datang dari seluruh penjuru dunia. Kedatangan mereka pun berkelompok-kelompok dalam jumlah besar. Eksodus ini menandakan semakin dekatnya akhir riwayat mereka. Karena, dengan berkumpulnya mereka dalam satu lokasi (negara) akan mudah menghancurkan dan melenyapkannya dalam tempo sesaat. Sekelompok umat akan memasuki Al-Quds dan membebaskannya dari cengkeraman Israel, {faizdã jãa wa'dul ãkhirati liyasũu wujũhakum waliyadkhulul masjida kamã dakhalũhu awwala marratin waliyutabbirũ mã 'alau tatbĩran}, "Dan apabila datang saat hukuman bagi kejahatan kedua. Kami datangkan orang lain untuk menyuramkan muka-muka kalian. Dan mereka masuk ke dalam mesjid sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama. Dan untuk membinasakan habis-habisan apa saja yang mereka kuasai".

Tidak menutup kemungkinan ayat tersebut mengisyaratkan sekelompok mujahidin yang tsabãt hingga detik ini. Mereka muncul di tengah-tengah kezaliman bangsa Israel. Sebuah respon thabĩ'i (normal) sesuai sunnatullah yang berlaku di alam. Mereka ikhlas menggadaikan harta & jiwa kepada Allah. Mengorbankan seluruh yang berharga dalam hidupnya demi meraih ridho & surga-Nya. Tidak takut kepada siapa pun, dan tidak ciut semangat walau dituduh teroris {lã yakhãfuna laumata lãimin}. Dengan taktik gerilya dan aksi istisyhãdiyya yang gagah berani telah berhasil menggentarkan pihak lawan dan menjatuhkan mental musuh yang memiliki persenjataan jauh lebih unggul.

Mereka inilah yang diramalkan Nabi SAW dalam sebuah haditsnya, [lã tazãlu thãifatun min ummatĩ zhãhirĩna 'alalhaqqi lã yadhurruhum man khazdalahum]. Tidak jarang karamah (dignity) Allah perlihatkan lewat aktivitas jihad mereka, seperti pembuktian hadits Nabi SAW, [lã taqũmussã'atu hattã yuqãtilul muslimũnalyahũd, fayakhtabiulyahũd warãalhajar wasysyajar, fayaqũlulhajar wa sysyajar yã muslim yã 'abdullah hazdã yahũdiyun khalfĩ ta'al faqtulhu illalgarqad fainnahu min syajarilyahũd], "Kiamat tidak akan terjadi sebelum kaum muslimin memerangi bangsa Yahudi. Ketika itu orang Yahudi akan bersembunyi dibalik batu & pohon. Batu dan pohon itu akan berseru, 'Hai muslim! Hai hamba Allah! Seorang Yahudi sedang sembunyi di punggungku! Kesinilah, bunuh dia!' Kecuali pohon 'garqad', sesungguhnya ia adalah pohonnya orang Yahudi".

Banyak di antara kita belum percaya, skenario hadits di atas telah terjadi beberapa waktu yang lalu. Kita hanya percaya, bahwa ramalan Nabi SAW dapat mewujud di era akhir zaman saja, di mana Yahudi versus Muslim mempermaklumkan perang terbuka. Tidak sadarkah kita, perang telah dimulai sejak berdirinya negara Yahudi tahun 1948 di bumi Palestina? Era millennium di mana kita hidup saat ini adalah era akhir zaman. Semua prediksi Nabi tentang kondisi akhir zaman 90% telah terbukti, termasuk ramalan hadits di atas.

Untuk lebih jelas, saya ingin nukil ungkapan Asy Syahĩd Syekh Ahmad Yasin, tokoh pendiri gerakan HAMAS yang berbicara langsung via HP (telewicara) kepada hadirin dalam muktamar IV Ikatan Dokter Mesir di MG. Beliau berkata, "Sesungguhnya tanda-tanda kemenangan telah kami saksikan dengan mata kepala sendiri. Di antaranya, seperti yang terjadi belum lama ini di Ramallah. Saat itu para pejuang sedang mengusir seorang pemukim Yahudi. Lalu, pemukim itu menghilang di balik pohon. Dengan izin Allah, tiba-tiba pohon tersebut berbicara. Syekh Ahmad Yasin sambil bersumpah berkata, "Demi Allah ini betul-betul terjadi", pohon itu berseru ke arah para pejuang, ini orangnya (Yahudi) sedang sembunyi di belakangku! Kemudian para pemuda Palestina menuju ke belakang pohon tersebut dan betul orang Yahudi yang lari tadi sembunyi di situ. Kemudian mereka membunuhnya". Syahĩd Ahmad Yasin menutup dialognya sambil berkata, "Sesungguhnya peristiwa itu adalah refleksi dari hadits Rasulullah SAW".

Apalagi yang kita tunggu, apalagi yang membuat kita ragu? Semuanya cukup jelas. Sekarang… mantapkan iman, yakinkan hati! Anda siap atau tidak! Para Jundullah yang berada satu gerbong dengan Mujahidin telah siap menyongsong kemenangan. Kemenangan yang harus ditebus dengan pengorbanan harta, jiwa dan raga. Tidak ada yang gratis! Darah kaum muslimin Palestina yang tumpah, tidaklah setara dengan nilai darah ayam potong. Israel akan menebus darah para syuhada tersebut dengan harga mahal seiring dengan skenario Allah. Dan saatnya tidak-kan lama lagi. Israel akan lenyap dari petas!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar