Tanda-tanda Akhir Zaman

Hari kiamat itu mempunyai tanda, bermulanya dengan tidak laris jualan di pasar, sedikit saja hujan dan begitu juga dengan tumbuh-tumbuhan. Ghibah menjadi-jadi dan merata-rata, memakan riba, banyaknya anak-anak zina, orang kaya diagung-agungkan, orang-orang fasik akan bersuara lantang di masjid, para ahli mungkar lebih banyak menonjol dari ahli haq.Wallahu'alam Bish-shawab


Selasa, 29 Desember 2015

Tanda-tanda Kiamat Dalam Perhatian Sahabat Nabi


Perhatian para sahabat Nabi terhadap tanda-tanda kiamat juga sangat besar. 

Mengikuti perjalanan hidup para sahabat akan menyampaikan kita kepada sebuah pengertian bahwa mereka sangat perhatian terhadap tanda-tanda hari Kiamat. Hari Kiamat merupakan salah satu isu penting yang menyita perhatian mereka dalam berbagai kesempatan yang ada. Hal ini terbukti dari berbagai moment yang kami sebutkan beberapa contohnya, di antaranya adalah:
Diriwayatkan dari Hudzaifah bin Asid Al-Ghifari ra, dia bertutur:
اطَّلَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْنَا وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ فَقَالَ مَا تَذَاكَرُونَ قَالُوا نَذْكُرُ السَّاعَةَ قَالَ إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ فَذَكَرَ الدُّخَانَ وَالدَّجَّالَ وَالدَّابَّةَ وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَنُزُولَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَأَجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَثَلَاثَةَ خُسُوفٍ خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنْ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ
Ketika kami sedang berdiskusi, Rasulullah saw mendekati kami dan bersabda kepada kami, “Masalah apa yang sedang kalian diskusikan?” Kami pun menjawab, “Kami sedangkan membicarakan perihal hari Kiamat.” Mendengar itu Rasulullah saw bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya hari Kiamat itu tidak akan terjadi, melainkan kalian melihat 10  tanda-tandanya.” Kemudian beliau menyebutkan tanda tersebut sebagai berikut: (munculnya) asap, Dajjal, terbitnya matahari dari sebelah barat, turunnya Isa bin Maryam as, munculnya Ya’juj dan Ma’juj, terjadinya 3 kali gempa bumi, gempa di bumi bagian barat dan timur, kemudian disusul gempa yang terjadi di Semenanjung Arab. Kemudian, sebagai akhirnya bertiuplah api yang berasal dari negeri Yaman yang menggiring manusia menuju tempat yang tempat berkumpul mereka. (HR. Muslim: Al-Fitan wa Asyrâth As-Sâ‘ah, hadits no. 2901. Muslim bi Syarh An-Nawawi, 9/225)
Secara jelas, hadits di atas menyatakan bahwa tema diskusi yang dibicarakan oleh para sahabat berkisar tentang hari Kiamat. Kata ‘mudzakarah’ menunjukkan pembicaraan tersebut berlangsung cukup lama. Demikian juga hadits ini menunjukkan bahwa tema yang sedang mereka bicarakan adalah satu, yaitu tentang hari Kiamat. Maka, Rasulullah saw ikut serta dalam diskusi mereka ini, bahkan beliau menjelaskan tanda-tanda hari Kiamat Kubra.
Mungkan yang mereka bicarakan itu terkait detik-detik menjelang terjadinya hari Kiamat. Dengan demikian Rasulullah saw menjelaskan kepada mereka bahwa hari Kiamat mempunyai tanda-tanda yang besar yang harus terjadi sebelum hari Kiamat tersebut benar-benar terjadi. Pada sisi lain jawaban yang diberikan beliau kepada mereka telah semakin memperluas topik ini untuk didiskusikan terkait tanda-tandanya. Seolah-olah beliau justru menggalakan diskusi ini kepada mereka, bahkan beliau turut memperkaya bahan kajiannya agar mereka semakin bertambah semangat melakukan diskusi.
 
Tanda-tanda Kiamat Dalam Perhatian Sahabat Nabi
Ilustrasi
Diriwayatkan dari Hudzaifah ra, dia berkata:
كُنَّا عِنْدَ عُمَرَ فَقَالَ أَيُّكُمْ يَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْفِتْنَةِ كَمَا قَالَ قَالَ فَقُلْتُ أَنَا قَالَ إِنَّكَ لَجَرِيءٌ وَكَيْفَ قَالَ قَالَ قُلْتُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلَاةُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ فَقَالَ عُمَرُ لَيْسَ هَذَا أُرِيدُ إِنَّمَا أُرِيدُ الَّتِي تَمُوجُ كَمَوْجِ الْبَحْرِ قَالَ فَقُلْتُ مَا لَكَ وَلَهَا يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ بَيْنَكَ وَبَيْنَهَا بَابًا مُغْلَقًا قَالَ أَفَيُكْسَرُ الْبَابُ أَمْ يُفْتَحُ قَالَ قُلْتُ لَا بَلْ يُكْسَرُ قَالَ ذَلِكَ أَحْرَى أَنْ لَا يُغْلَقَ أَبَدًا قَالَ فَقُلْنَا لِحُذَيْفَةَ هَلْ كَانَ عُمَرُ يَعْلَمُ مَنْ الْبَابُ قَالَ نَعَمْ كَمَا يَعْلَمُ أَنَّ دُونَ غَدٍ اللَّيْلَةَ إِنِّي حَدَّثْتُهُ حَدِيثًا لَيْسَ بِالْأَغَالِيطِ قَالَ فَهِبْنَا أَنْ نَسْأَلَ حُذَيْفَةَ مَنْ الْبَابُ فَقُلْنَا لِمَسْرُوقٍ سَلْهُ فَسَأَلَهُ فَقَالَ عُمَرُ
Saat itu kami sedang duduk-duduk bersama Umar. Maka berkatalah Umar, “Siapakah di antara kalian yang tahu betul terhadap sabda Rasulullah saw yang berkaitan dengan fitnah?” Maka aku pun menjawab, “Akulah orangnya.” Maka, Umar berkara, “Sungguh, engkau terhadap masalah ini termasuk orang yang berani.” Maka aku pun langsung mengatakan permasalah itu di hadapannya, “(Ketahuilah), fitnah yang menimpa seorang laki-laki terkait keluarga, harta, anak, atau tetangganya dapat dilebur dengan shalat, puasa, sedekah, dan melakukan amar makruf dan nahi munkar.” Umar berkata, “Bukan itu yang aku maksudkan, tetapi fitnah yang menerpa (umat Islam) laksana gelombang samudera.” Maka Hudzaifah berkata, “(Tenang saja) engkau tidak akan mengalami pedihnya fitnah itu, wahai Amirul Mukminin, karena antara fitnah itu dan diri Anda terdapat pintu yang tertutup (yang menghalanginya).” Umar balik bertanya, “Apakah pintu tersebut akan terbuka atau didobrak?’ Hudzaifah menjawab, “Pintu tersebut akan didobrak secara paksa.” Kami (perawi) pun berkata, “Apakah Umar juga mengetahui ‘pintu’ itu?” Hudzaifah menjawab, “Iya, dia pun juga mengetahuinya seperti siang yang akan mendahului malam. Ketahuilah, aku tidak menceritakan hal ini dengan mengada-ada. Biarkan aku pergi untuk bertanya langsung kepada Hudzaifah. Maka kami pun menyuruh Masruq untuk menanyakannya, maka Hudzaifah pun menjawab, ‘Pintu itu adalah Umar’.” (HR. Al-Bukhari, bab: Mawâqit Ash-Shalah, hadits no. 525, Fath Al-Bâri, 2/11. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim: Bab Al-Fitan wa Al-Malâhim, hadits no. 144, Muslim bi Syarh An-Nawawi, 9/215).
Hadits ini secara jelas menunjukkan bahwa para sahabat adalah orang-orang yang menduduki tingkatan tertinggi dalam hal agama, mereka sangat menaruh kepedulian terhadap hadits-hadits yang menjabarkan tentang fitnah, bahkan mereka meminta keterangan tentang masalah ini dengan sejelas-jelasnya. Hal ini terbukti dengan pertanyaan Amirul Mukminin Umar ra terkait fitnah yang diumpamakan seperti gelombang samudera. Hadits di atas juga menunjukkan bahwa para sahabat mendalami kajian ini hingga mendetail. Hadits tersebut dibuka dengan penjelasan Hudzaifah ra tentang fitnah yang menimpa seseorang akibat keluarganya, kemudian hal ini disusul oleh Umar ra yang menanyakan kepadanya tentang fitnah-fitnah yang lain dan secara tegas mencari tahu apakah sesungguhnya fitnah yang dimaksudkannya itu.
Diriwayatkan dari Abu Idris Al-Khaulani, bahwasanya dia mendengar Hudzaifah bin Al-Yaman ra berkata:
كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
Orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw tentang hal-hal yang baik, sedangkan aku menanyakan kepada beliau hal-hal yang buruk karena aku khawatir jika keburukan tersebut akan menimpa diriku. Maka aku pun bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, dulu sewaktu kami di masa jahiliyyah kami dalam kondisi yang amat buruk, kemudian datanglah kebaikan (Islam) ini kepada kami, lantas apakan setelah datangnya kebaikan ini akan datang keburukan lagi?” Beliau menjawab, “Benar.” Kemudian aku bertanya, ‘Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan kembali?” Beliau menjawab, “Benar, di dalamnya ada kabut yang gelap.” Apakah itu, ya Rasulullah?” tanyaku. Beliau menjawab, “Satu kaum yang menyeru bukan dengan petunjukku dan engkau akan mengetahuinya tetapi engkau juga yang mengingkarinya.” Aku bertanya lagi, “Setelah kebaikan tadi, akan datang keburukan?” Beliau menjawab, “Benar, yaitu para penyeru yang memanggil di depan pintu neraka Jahanam. Barangsiapa yang memenuhi ajakannya, niscaya dia akan terjerumus ke dalamnya.” Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, berikanlah kepadaku ciri-ciri mereka itu!” Beliau menjawab, “Mereka itu adalah orang-orang yang mempunyai warna kulit seperti kita dan berbicara dengan bahasa kita.” Aku bertanya lagi, “Apa yang Anda perintahkan jika hal itu terjadi kepada kami?” Beliau menjawab, “Tetaplah engkau bersama jamaah kaum muslimin dan imam mereka.” Aku bertanya lagi, “Bagaimana jika aku tidak menemukan masyarakat muslim bersama imamnya?” Beliau menjawab, “Asingkanlah dirimu dan tinggalkan semua kelompok itu, meskipun engkau harus bergelayut di batang pohon hingga ajal menemuimu dengan kondisimu itu.” (HR. Al-Bukhari: Al-Fitan, bab: Kaifa Al-Amr Idzâ Lam Takun Jamâ’ah, hadits no. 7084, Fath Al-Bârî, 13/38)
Hadits di atas secara jelas menunjukkan bahwa betapa para sahabat menaruh perhatian yang sangat besar terhadap masalah fitnah, pergolakan, dan tanda-tanda hari Kiamat. Bisa jadi Hudzaifah ra adalah orang yang paling unggul dalam masalah ini, dia banyak menerima rahasia dari Rasulullah saw. Hal ini terbukti dari banyaknya pertanyaan yang diajukannya kepada Rasulullah saw secara detail hingga kepada masalah yang paling pelik sekalipun.
Di samping itu, hadits di atas meninjukkan sikap sabar dan kasih Rasulullah saw kepada para sahabat beliau, di samping beliau sendiri sangat antusias untuk mengobati rasa penasaran sahabatnya itu, menjabarkan detai-detailnya, dan memberikan resep penawar mujarab terhadap setiap penyakit yang menimpanya.
Diriwayatkan dari Ya‘qub bin Ashim bin Urwah bin Mas‘ud Ats-Tsaqafi, bahwasanya dia berkata:
سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو وَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ مَا هَذَا الْحَدِيثُ الَّذِي تُحَدِّثُ بِهِ تَقُولُ إِنَّ السَّاعَةَ تَقُومُ إِلَى كَذَا وَكَذَا فَقَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ أَوْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهُمَا لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ لَا أُحَدِّثَ أَحَدًا شَيْئًا أَبَدًا إِنَّمَا قُلْتُ إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدَ قَلِيلٍ أَمْرًا عَظِيمًا يُحَرَّقُ الْبَيْتُ وَيَكُونُ وَيَكُونُ
Aku mendengar seseorang datang menemui Abdullah bin Amr seraya berkata, “Apa yang sedang engkau bicarakan itu? Bukankah engkau yang mengatakan bahwa hari Kiamat akan terjadi jika ada ini dan itu.” Maka Abdullah bin Amr menjawab, “Subhânallâh atau Lâ ilaha illallâh, atau kalimat yang semisal, aku telah bertekad untuk tidak membicarakan masalah ini kepada orang lain selamanya dan aku hanya berkata bahwa sebentar lagi kalian akan melihat peristiwa yang amat dahsyat: Baitullah akan terbakar dan terjadilah apa yang terjadi.” (HR. Muslim, Al-Fitan, hadits no. 2940, Muslim bi Syarh An-Nawawi, 9/267)
Dari redaksi hadits tersebut dapat diambil kesimpulan bahwasanya Abdullah bin Amr rhuma adalah salah seorang sahabat yang paling banyak membicarakan masalah masa depan yang bersumber dari Rasulullah saw. Sedangkan para sahabat yang lain salah paham dan memutarbalikkan makna sehingga Abdullah bin Amr rhuma sempat berkeinginan untuk tidak menceritakan lagi hadits-hadits tersebut kepada siapapun.
Di samping itu, hadits di atas juga menunjukkan perhatian Abdullah bin Amr rhuma yang sangat besar terhadap hadits-hadits yang menyinggung tentang tanda-tanda hari Kiamat. Bahkan dia melakukan interpretasi terhadap tanda-tanda tersebut untuk disesuaikan dengan realita pada masanya.
Diriwayatkan dari Yusair bin Jabir, dia berkata:
هَاجَتْ رِيحٌ حَمْرَاءُ بِالْكُوفَةِ فَجَاءَ رَجُلٌ لَيْسَ لَهُ هِجِّيرَى إِلَّا يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ جَاءَتْ السَّاعَةُ قَالَ فَقَعَدَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ إِنَّ السَّاعَةَ لَا تَقُومُ حَتَّى لَا يُقْسَمَ مِيرَاثٌ وَلَا يُفْرَحَ بِغَنِيمَةٍ ثُمَّ قَالَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَنَحَّاهَا نَحْوَ الشَّأْمِ
Bertiuplah angin merah dari arah negeri Kufah, maka datanglah seorang laki-laki yang tidak berteriak tetapi hanya bersuara keras seraya berkata, “Wahai Ibnu Mas‘ud, hari Kiamat telah datang!” (Perawi hadits berkata, “Kemudian Ibnu Mas‘ud duduk tegak padahal semula dia bersandar) Ibnu Mas‘ud berkata “Ketahuilah, hari Kiamat tidak akan terjadi hingga harta waris tidak dibagikan (menurut yang semestinya dalam ilmu mawarits), serta orang-orang tidak merasa senang dengan harta bagian rampasannya.” Kemudian dia menunjukkan tangannya seperti ini (ke arah Syam ). (HR. Al-Bukhari, Al-‘Ilm, Hifzh Al-‘Ilm, hadits no. 120, Fath Al-Bârî, 1/260)
Kutipan hadits di atas merupakan potongan dari hadits yang panjang dan akan kami ulas seutuhnya dalam pembahasan tentang Imam Mahdi dalam topik peperangan akhir zaman. Adapun bukti yang terdapat dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa Abdullah bin Mas‘ud ra adalah salah seorang sahabat yang paham betul akan perjalanan yang akan dilalui oleh umat Islam. Maka dari itu dia sama sekali tidak terpengaruh dengan kabar yang diberitahukan oleh orang tersebut tentang peristiwa yang terjadi di sana-sini.
Dari atsar tersebut terlihat jelas diketahui bahwa orang tersebut datang dengan membawa kabar bahwa angin merah yang menjadi tanda terjadinya hari Kiamat telah bertiup dari arah kota Kufah. Namun Ibnu Mas‘ud ra hanya berubah posisi dengan perasaan yang tenang dan menyatakan bahwa hari Kiamat tidak akan terjadi, kecuali setelah terjadi berbagai peristiwa yang menjadi tanda kedatangannya. Mungkin, hal yang paling penting untuk disimpulkan dari kandungan atsar ini adalah 2 hal berikut ini:
Pertama, perhatian sahabat yang begitu besar terhadap tanda-tanda hari Kiamat serta mereka mampu mendiskripsikan tahapan-tahapan yang akan dilalui hingga hari Kiamat benar-benar terjadi.
Kedua, pentingnya mengetahui tanda-tanda hari Kiamat hingga berbagai pemahaman tidak berceceran atau menginterpretasikan suatu peristiwa dengan yang tidak semestinya, atau bahkan menggugurkan salah satu tanda dari tanda-tanda hari Kiamat.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwasanya dia berkata:
حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وِعَاءَيْنِ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَبَثَثْتُهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَلَوْ بَثَثْتُهُ قُطِعَ هَذَا الْبُلْعُومُ
Aku menyimpan dari apa yang disampaikan Rasulullah saw kepadaku dalam 2 wadah: satu di antaranya aku kabarkan kepada semua orang, sedangkan yang satunya lagi, andai aku menyebarkannya kepada orang lain, niscaya urat leher ini akan putus.[1]
Sudah masyhur apabila Abu Hurairah ra adalah seorang sahabat yang paling banyak hafal hadits-hadits Rasulullah saw. Dalam riwayat ini dia menceritakan bahwa dirinya menampung apa yang diterimanya dari Rasulullah saw dalam dua wadah. Maksudnya adalah 2 ilmu yang harus disendirikan. Mayoritas ulama peneliti hadits mensinyalir bahwa satu wadah yang dirahasiakan oleh Abu Hurairah ra itu adalah hadits-hadits yang menyinggung tentang fitnah, pergolakan, dan tanda-tanda kedatangan hari Kiamat. Ini menunjukkan bahwa dia adalah sahabat yang menaruh perhatian sangat besar terhadap masalah fitnah dan yang lainnya sehingga dia menjadikan hafalannya dalam dua kelompok yang disendirikan.
Kesimpulan:
Jika Allah melalui firman-Nya, Rasulullah melalui sabdanya, dan para sahabat yang notabene sempat hidup pada masa kenabian saja sangat menaruh perhatian terhadap tanda-tanda tibanya hari Kiamat, maka untuk kita yang hidup di masa sekarang ini tentunya harus menaruh perhatian yang lebih besar lagi dan mengetahui hingga sedetail-detailnya atas berbagai periode zaman yang kita lalui, lebih-lebih jarak kita dengan masa kenabian sudah sangat begitu jauh.

6 Alasan Pentingnya Mengetahui Tanda-tanda Kiamat


Inilah alasan, kenapa kita harus mengetahui tanda-tanda kiamat.

Mengimani hari kiamat adalah keharusan bagi kaum muslimin. Sedangkan kepastian kapan kiamat, hanya Allah-lah yang mengetahui. Hanya-hanya tanda-tanda kiamat sajalah yang dikabarkan kepada umatnya. Baik melalui firman-Nya maupun hadits Rasul-Nya Muhammad saw.

Sehingga mengetahui tanda-tanda kiamat sangatlah penting bagi kita sebagai umat yang jauh dari zaman Nabi Muhammad.

6 Alasan Pentingnya Mengetahui Tanda-tanda Kiamat
ilustrasi


Dan berikut ini beberapa urgensi dari mempelajari tanda-tanda kiamat.


1.  Mengetahui Kebenaran Peristiwa di Setiap Zaman Hingga Hilanglah Keraguan


Sebagaimana yang diyakini bahwa Nabi Muhammad saw adalah nabi yang terakhir, demikian juga umatnya adalah umat akhir zaman. Sehingga manusia sudah mengalami periode waktu yang jauh dari sumber kenabian, maka tentunya sudah banyak nilai asli yang telah bercampur dengan berbagai hal baru yang ditemui manusia.

Dengan demikian menuntut adanya ketersambungan umat manusia dengan wahyu terkait hal-hal baru yang mereka temui, khususnya menyangkut perkara yang amat besar dan penting; hari kiamat.

Dari sinilah tanda-tanda hari Kiamat yang dikabarkan oleh Rasulullah saw—khususnya terkait berbagai fitnah yang melanda umat manusia, solusi dan cara berinteraksi dengan hal-hal baru tersebut, dan lebih khusus lagi sebab-sebabnya—merupakan pertolongan wahyu yang diberikan pada setiap masa untuk menunjukkan jalan keselamatan bagi umat manusia.

Apa yang pernah dikabarkan oleh Rasulullah saw terkait tanda-tanda hari Kiamat merupakan nubuwat guna menghilangkan keraguan yang selama ini menyelimuti umat, hingga mereka mengetahui hakikat sebenarnya yang terjadi. Bahkan seolah-olah Nabi saw masih berada bersama mereka.

Kesinambungan wahyu terus menemukan realitanya bersama umat Islam bersamaan dengan bergulirnya zaman hingga hari Kiamat benar-benar terjadi melalui tanda-tanda yang telah dijabarkan Rasulullah saw dalam hadits-hadits beliau.

2. Memperkuat Sendi-sendi Keimanan Terhadap Kebenaran yang Dibawa Oleh Rasulullah saw

Apabila kita jeli memperhatikan berbagai peristiwa dan fitnah di sekitar kita, kemudian mencocokkannya dengan hadits-hadits yang pernah disampaikan Rasulullah saw terkait masalah kiamat, maka akan tampak baginya bahwa Rasulullah saw telah memberikan detail peristiwa tersebut secara spesifik.

Maka, tidak diragukan lagi hal ini akan semakin memperkokoh nilai-nilai keimanan di dalam hati kita akan kebenaran risalah yang diemban oleh Rasulullah saw. Sebab bukanlah hal yang masuk akal apabila semua peristiwa yang amat banyak itu—lengkap dengan detailnya serta berbagai kabar ghaib lainnya—keluar dari seorang manusia yang terlepas dari bimbingan wahyu.

Hal inilah yang mengakibatkan seorang mukmin akan menyimpulkan dengan seyakin-yakinnya dan tidak dapat diganggu gugat bahwa apa yang dibawa oleh Muhammad saw adalah benar. Meskipun mengetahui pertanda hari Kiamat ini bukanlah unsur utama bagi keimanan seseorang, tetapi dengan mengetahuinya nilai-nilai keimanan dapat diperbarui, lebih-lebih di zaman yang sudah dikuasai oleh nafsu dan syahwat yang merajalela.

Di sisi lain, sebagaimana halnya para sahabat yang juga ikut merasakan pertolongan ghaib, karena mereka hidup bersama Rasulullah saw melalui berbagai mukjizat yang diberikan kepada beliau, demikian juga dengan umat Muhammad saw yang hidup setelah para sahabat, mereka sama sekali tidak pernah terputus dari pertolongan ghaib yang disalurkan melalui mukjizat wahyu yang mengabarkan tentang kejadian masa depan mereka.

Hal ini tercermin bahwa dalam setiap zaman yang dialami oleh umat manusia, mukjizat kebenaran yang dibawa beliau dan dikabarkan kepada umatnya akan menemui kebenarannya pada zamannya masing-masing. Tentunya hal ini setelah melakukan berbagai pengamatan serius dan mencocokkannya dengan kriteria detail yang diberikan oleh Nabi saw.

3. Merupakan Bentuk Peringatan dan Solusi Bagi Umat Islam Atas Musibah yang Mereka Alami

Ketika Rasulullah saw mengabarkan bentuk fitnah apa saja yang akan melanda umatnya, beliau tidak hanya sekedar memberikan ciri tentang masalah itu. Lebih jauh lagi beliau juga menjelaskan kepada umatnya solusi cerdas bagi mereka untuk dapat keluar dari kondisi tersebut.

Jika ditelisik lebih dalam lagi, akan diketemukan bahwa hadits-hadits yang menyinggung tentang fitnah dan pergolakan terkandung di dalamnya ciri-ciri spesifik serta metode yang paten sebagai solusi untuk keselamatan manusia. Bedanya setiap muslim akan berinteraksi dengan resep yang diberikan itu sesuai dengan fitnah yang terjadi di sekitarnya dan pada zamannya. Ini sangatlah sesuai dengan universalitas risalah Islam yang akan terus sesuai dengan setiap situasi dan kondisi yang manapun.

Dari sini tampak jelas, bahwa studi terhadap tanda-tanda hari Kiamat menemukan puncak urgensinya, karena di dalamnya mengandung peringatan dan petunjuk terhadap tempat dan waktu terjadinya bencana serta dapat melakukan analisa penyakit dan sekaligus memberikan obat atau terapi yang ampuh hingga hari Kiamat benar-benar terjadi. Ini terbukti secara jelas dalam banyak hadits yang menyinggung soal tanda-tanda hari Kiamat.

Ketika Rasulullah saw mengabarkan penyakit wahn yang akan menjangkiti umat Islam akhir zaman, misalnya, beliau juga menjelaskan sebab-sebab tersebarnya wabah ini kepada umatnya, yaitu cinta dunia dan takut mati. Contoh lain: ketika Rasulullah saw mengabarkan kegoncangan iman yang melanda umat Islam bersamaan dengan berbagai fitnah yang muncul laksana malam yang amat gelap, maka Rasulullah saw menjelaskan resep penawarnya dengan sabdanya, “Hendaklah kalian bersegera melakukan amal shalih ketika terjadi fitnah-fitnah tersebut.” Demikian juga tatkala Rasulullah saw mengisyaratkan terjadinya perpecahan dan pergolakan yang terjadi di tubuh umat Islam atau ketika umat Islam dilanda kelesuan, beliau menjelaskan berbagai cara yang akan menyelamatkan mereka dari kondisi itu. Dan, masih banyak lagi contoh yang lainnya.

4. Menjauhkan Sikap Lemah, Putus Harapan, dan Tekanan Psikologis, Memperkuat Keteguhan Beragama, dan Memotivasi untuk Beramal Shalih

Ketika seorang muslim terjebak dalam kenyataan yang menyakitkan sehingga lembar-lembar kehidupannya bertuliskan rasa pasrah dengan segala sikap yang membuatnya merasa terhina dan rendah, maka dengan melakukan studi terhadap tanda-tanda hari Kiamat akan diketemukan bahwa kondisi yang sedang dialaminya ini tidak akan selamanya demikian dan umat Islam yang lain pun akan mengenyam masa-masa kejayaannya. Zaman akan berubah dan umat Islam akan mendapatkan banyak pelajaran dari rasa sakit yang dideritanya.

Apa yang menyebabkan mereka terjebak dalam kenistaan dan lemah, tiada lain justru karena mereka menyia-nyiakan amanah risalah yang mereka emban dan karena mereka telah jauh dari nilai-nilai yang dicanangkan oleh risalah itu sendiri. Dengan melakukan studi terhadap tanda-tanda hari Kiamat ini, diharapkan akan muncul lagi semangat baru di dalam dada setiap muslim. Yaitu ketika dia sadar dan setelah dia tahu akan kabar kemenangan dan kesuksesan yang pernah diberitakan oleh Nabi saw, akan timbullah semangat baru dalam dirinya untuk menjadi tangan-tangan takdir yang merealisasikan kehendak Allah di muka bumi demi kejayaan umat Islam.

Kita ambil contoh tentang kondisi yang sekarang ini sedang dipenuhi rasa lemah dan kalah: kebatilan telah merajalela dan melilit umat Islam sehingga mereka tidak dapat lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dalam kondisi seperti ini apabila seorang muslim hanya meratapi kondisinya yang mengenaskan karena terpengaruh oleh lemahnya umat serta larut dalam kesedihan hingga membuatnya sekarat sebagaimana yang digambarkan oleh beberapa pemikir, ditambah lagi dengan serbuan para pembuat kemungkaran dengan berbagai serangannya yang memporak-porandakan kesatuan tubuh umat Islam, maka tidak diragukan lagi hal itu akan mengakibat rasa kalah dalam diri seorang muslim.

Berbeda akibatnya jika dia melihat hal tersebut dengan memakai kacamata As-Sunnah yang di dalamnya terdapat rincian solusi untuk keluar dari kondisi yang sedang dialami, berita yang terdapat di dalamnya akan membuat dia tidak akan menyerah terhadap kondisi ini. Sebaliknya, dia akan menyingsingkan lengan baju untuk menghadapi segala kenyataan yang ada.

Contoh-contoh berikut ini dapat menjelaskan hal tersebut:

a. Pada saat ini kita menyaksikan Al-Quds telah menjadi ladang penyembelihan yang dikuasai di tangan orang-orang Yahudi yang zhalim. Kita juga mengakui mereka itu mempunyai unsur-unsur kekuatan, dukungan finansial, serta berbagai sarana lainnya. Bahkan mereka juga mampu mengendalikan ‘anak gadis mereka’ Amerika Serikat untuk membungkam negara-negara Muslim-Arab, sehingga setiap usaha untuk membebaskan Al-Quds ke pangkuan orang-orang Palestina dari kungkungan tangan-tangan Yahudi menemukan jalan buntu.

Demikian juga kita melihat dan mendengar melalui berbagai media yang ada, bahwa orang-orang Yahudi menganggap bahwa Al-Quds adalah ibu kota abadi negara Israel. Nah, dalam kondisi seperti inilah seorang muslim mungkin akan berputus asa yang akibatnya membuat dirinya jauh dari usaha-usaha untuk membebaskan Al-Quds dari cengkeraman tangan-tangan Yahudi. Inilah kenyataan yang ada sekarang ini.

Tetapi akan berbeda jika dia membuka lembaran As-Sunnah yang di dalamnya ada kabar gembira di hadapan matanya. Dalam kabar As-Sunnah diberitakan bahwa Al-Quds yang tertawan inilah justru yang akan menjadi ibukota negara-negara muslim, sekaligus sebagai puncak kebangkitan umat Islam II, selain Al-Quds juga akan menjadi tempat terkuburnya Dajjal sang menyebarkan fitnah di muka bumi.

b. Ketika seorang muslim melihat kondisi lemah, kalah, dan putus asa yang menimpa dunia Islam, maka hal tersebut akan menimbulkan rasa jengkel pada dirinya tetapi dia tidak berdaya untuk melakukan satu usaha pun untuk merubah kondisi ini. Namun apabila dia membuka lembaran-lembaran As-Sunnah, akan dia temukan bahwa kondisi ini bukanlah tiada akhir. Sebab Allah telah memberikan jaminan-Nya kepada umat Islam bahwa dalam setiap masa akan ada orang yang akan memperbarui urusan agama, bahwa nasib pilu seperti ini tidak akan selamanya demikian, dan di sana masih ada orang-orang yang konsekuen terhadap kebenaran dan berusaha keras untuk terus-menerus membelanya hingga hari Kiamat tiba. Atau bisa jadi sekelompok orang itulah yang akan menjadi tangan-tangan takdir untuk merealisasikan kehendak Allah di muka bumi.

Ruh atau semangat seperti inilah yang diharapkan dapat menggugah dan sekaligus memperbarui kesiapan seorang muslim untuk tetap tegar mengemban risalah Islam. Di samping itu semangat inilah yang juga diharapkan mampu mengasah lagi ketajaman cita-citanya untuk menjadi bagian kelompok tersebut atau mengambil bagian dalam rangka memperbarui ruh keimanan umat Islam.

c. Ketika seorang muslim menyaksikan berbagai kezhaliman dan kenistaan yang berada di sekelilingnya, kemudian dia membuka lembaran-lembaran As-Sunnah, maka di sana dia akan menemukan kabar gembira bahwa kezhaliman ini akan segera berakhir dan ujung kezhaliman itu akan muncul keadilan dengan izin Allah. Hal ini sebagaimana yang ditunjukkan dalam banyak redaksi hadits. Jelasnya apabila kita mau memperhatikan contoh-contoh yang dijabarkan ini, kita akan menemukan betapa berkahnya dampak dari adanya studi terhadap tanda-tanda hari Kiamat bagi umat Islam, di samping hal ini dapat dijadikan sarana untuk mengasah ketajaman cita-cita, memperbarui semangat hidup, serta membekali mereka dengan berbagai kekuatan untuk berperang meraih kejayaan.

5. Obat Rasa Ingin Tahu

Sudah menjadi fitrah manusia bahwa seseorang itu akan selalu ingin tahu terhadap hal-hal yang belum diketahuinya. Fitrah inilah yang mendorong setiap manusia selalu mengetahui hal-hal ghaib atau berbagai hal yang dia masih buta untuk diketahui. Maka dari itu dari dulu hingga saat ini manusia tidak bosan-bosannya menyingkap tabir ghaib yang berada di hadapan matanya. Pengetahuan tentang masa depan dan apa saja yang terjadi di dalamnya merupakan makanan lezat bagi jiwa manusia dan mendapatkan prioritas tersendiri di dalam pikiran mereka. Ini terbukti tidak seorang pun di antara kita yang tidak mempunyai keinginan untuk mengetahui perkara ghaib, mengetahui hal apa saja yang terjadi pada esok hari, serta menemukan akhir ceritanya. Bahkan manusia telah banyak mengorbankan waktu, tenaga, dan harta untuk memenuhi kebutuhan fitrahnya ini.

Maka tak heran berbagai cara mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan fitrah ini. Pergi ke dukun, tukang ramal, tukang sihir, atau ahli nujum merupakan fenomena yang tak asing lagi dari dulu hingga sekarang ini, padahal semuanya itu adalah perubatan terlarang dalam pandangan syariat. Di samping hal-hal yang mereka lakukan itu hanya akan mengakibatkan tercampurnya antara berita yang benar dengan berbagai ilusi mereka. Jika sudah demikian, manusia akan semakin terjerumus dalam kebingungan di tengah-tengah rasa bimbang yang menyelimutinya.

Cara-cara setan yang mereka lakukan ini justru tidak akan membuat mereka kenyang dan malah membuat diri mereka semakin terjerumus dalam kerugian. Ketahuilah, ilmu ghaib hanyalah milik Allah swt, siapapun tidak dapat membuka pintunya kecuali melalui perantara wahyu. Maka dari itu fungsi yang paling puncak dari diturunkannya wahyu justru ketika wahyu tersebut datang dengan membawa kabar perkara ghaib dan masa depan guna memenuhi hajat fitrah manusia dengan cara yang diperbolehkan dan terjauhkan dari berbagai rasa bimbang.

6. Mengetahui Tabiat Zaman untuk Menghindar dari Petakanya

Tanda-tanda hari Kiamat juga dapat dibangun sebagai parameter terhadap berbagai periode yang dilalui oleh umat Islam dalam perjalanan sejarahnya hingga akhir. Pengetahuan ini dapat dijadikan sebagai petunjuk bagi kaum muslimin tentang bagaimana caranya berinteraksi secara termetodologis terhadap fitnah-fitnah yang menimpa mereka dan jalan solusinya. Demikian juga mengetahui tentang hal-hal yang berkaitan dengan tanda-tanda hari Kiamat akan membantu seorang muslim untuk memahami agamanya dan hal-hal lain yang bermanfaat untuk agamanya secara komprehensif.

Dengan mengetahui tanda-tanda hari Kiamat ini, seseorang—paling tidak—telah menguasai bagian disiplin ilmu keislaman apabila dia mengkajinya dari berbagai aspek akan menjadi satu bekal yang sangat diperlukan oleh para dai untuk memahami kondisi zaman dan orang-orang yang hidup di dalamnya sebagai obyek dakwah. Sebab tidak ada yang mampu untuk menegakkan agama ini, melainkan orang yang mampu untuk menguasai agama dari berbagai seginya. Dalam hadits Hudzaifah ra yang telah lewat, kita dapat memperhatikan bagaimana Rasulullah saw menjelaskan tanda-tanda hari Kiamat yang diabadikan dalam dialog interaktif berisi penjelasan tahapan zaman yang akan dialami oleh umat Islam lengkap dengan segala sifat-sifat orang yang hidup pada zaman tersebut, serta berbagai tawaran solusi yang diberikan untuk keluar dari situasi darurat yang akan dialami oleh umat Islam.

Tanda Kiamat yang Paling Pertama Adalah Diutusnya Nabi Muhammad


Tanda kiamat yang paling awal muncul adalah diutusnya Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Dr. Ahmad Al-Mubayadh dalam buku beliau Ensiklopedi Fitnah, Peperangan, dan Tanda-tanda Akhir Zaman.
Berikut ini penjelasan beliau.
Tanda Kiamat yang Paling Pertama Adalah Diutusnya Nabi Muhammad

Hadits yang menjelaskan terutusnya Nabi Muhammad sebagai tanda kiamat

Beliau melandaskan penjelasan tersebut dengan hadits berikut ini.
Dari Anas ra, bersabda Rasulullah saw:
بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَضَمَّ بَيْنَ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى
 
(Jarak) antara aku diutus dengan hari Kiamat adalah seperti ini. (Anas ra berkata, “Rasulullah saw menggabungkan antara jari telunjuk dengan jari tengah.” (HR. Al-Bukhari: Ar-Raqâq, hadits no. 6504 [Fath Al-Bârî (11/355)], Muslim: Al-Fitan wa Asyrâth As-Sâ‘ah, hadits no. 2951 [Muslim bi Syarh An-Nawawi (9/279)].
Dalam riwayat yang lain:
بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَذِهِ وَهَذِهِ إِنْ كَادَتْ لَتَسْبِقُنِي
 
(Jarak) antara aku diutus dengan hari Kiamat adalah seperti ini dengan ini. Dan hampir saja hari Kiamat itu mendahuluiku. (HR. Ahmad: Musnad Al-Kufiyyîn, hadits no. 18797 [Al-Musnad (4/380)]. Hadits ini mempunyai syahid (hadits yang mendukung kebenarannya) dalam hadits shahih.)
Hadits yang diriwayatkan dari Anas ra ini sangatlah jelas menunjukkan bahwa terutusnya Rasulullah saw merupakan tanda hari Kiamat yang pertama. Risalah yang dibawanya adalah risalah yang paling akhir, umatnya adalah umat akhir zaman, dan terutusnya beliau merupakan tanda dekatnya hari Kiamat.
Oleh karena itu Rasulullah saw menyatakan bahwa terutusnya beliau ini dibarengi dengan tibanya hari Kiamat dengan isyarat jari telunjuk dengan jari berikutnya (jari tengah). Sementara sabdanya: “Dan hampir saja hari Kiamat itu mendahuluiku” menunjukkan betapa dekat hari Kiamat itu dengan masa diutusnya beliau.
Para ulama memberikan dua interpretasi terhadap isyarat jari yang diberikan Rasulullah saw:
Pertama, saling berdekatan. Maksudnya, antara Nabi Muhammad saw hingga hari Kiamat nanti tidak ada nabi lain, sedangkan masa terutusnya beliau ini adalah mendekati tibanya hari Kiamat.
Kedua, antara terutusnya Nabi Muhammad saw dengan tibanya hari Kiamat mirip seperti perbedaan panjang antara jari telunjuk dengan jari tengah. Artinya sejarah manusia dapat digambarkan dengan perbandingan antara dua telunjuk, sedangkan batas perbedaan antara panjang jari telunjuk dan jari tengah menunjukkan batas yang tersisa bagi kehidupan manusia hingga akhir zaman yang dimulai dari terutusnya Nabi Muhammad saw. (Muslim bi Syarh An-Nawawi (9/182)
Dalam pandangan kami, hadits tersebut mengisyaratkan dekatnya hari Kiamat. Oleh karenanya Rasulullah saw mengungkapkan dengan kalimat: “hampir saja hari Kiamat itu menyusulnya”. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam hadits berikut:
 
بُعِثْتُ فِي نَفَسِ السَّاعَةِ فَسَبَقْتُهَا كَمَا سَبَقَتْ هَذِهِ هَذِهِ لِأُصْبُعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى 
 
Aku diutus pada saat hari Kiamat ‘mulai bernapas’ (sudah dekat), maka aku pun mendahuluinya seperti ini dengan ini (Rasulullah saw mengisyaratkan antara jari telunjuk dengan jari tengah). (HR. At-Tirmidzi: Al-Fitan, hadits no. 2310. Beliau berkata hadits ini gharib. [Tuhfah Al-Ahwadzi (6/459)]. )
Maksud hadits di atas” “Aku diutus ketika hari Kiamat sudah dekat.”
Ibnu Hajar meriwayatkan dari Al-Qurthubi,
“Kesimpulan hadits tersebut menunjukkan hari Kiamat sudah dekat dan ia akan segara datang. Redaksinya memberi pengertian bahwa hari Kiamat sudah dekat dan tanda-tandanya pun akan terus berdatangan sebagaimana yang dikalamkan Allah swt: “Sesungguhnya telah datang tanda-tandanya.” (Muhammad [47]: 18).
Adh-Dhahak berkata, “Tanda hari Kiamat yang pertama adalah terutusnya Nabi Muhammad saw. Sedangkan hikmah yang dapat diambil pelajaran dari penyajian tanda-tandanya adalah untuk menyadarkan orang-orang yang lalai, di samping memotivasi mereka untuk segera bertaubat dan mempersiapkan diri.”
Ada juga yang menyatakan bahwa pengertian hadits tersebut mengungkapkan: “Antara aku dan hari Kiamat nanti tidak ada sesuatu risalah lagi, dan Kiamat itu akan terjadi setelahku seperti (jarak urutan) antara jari telunjuk dan jari tengah.”
Demikian penjelasan tentang terutusnya Nabi Muhammad saw adalah tanda paling awal dari tanda-tanda kiamat yang lainnya.

Terbelahnya Bulan, Satu dari Tanda Kiamat yang Telah Terjadi


Tanda kiamat yang dikabarkan oleh Allah dan Rasul-Nya ada yang telah terjadi. Salah satu tanda kiamat tersebut adalah terbelahnya bulan. Tanda kiamat ini termasuk tanda sughra.

Terbelahnya Bulan, Satu dari Tanda Kiamat yang Telah Terjadi
Ilustrasi

Nubuwat Terbelahnya Bulan

Allah swt berkalam:
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ
Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan. (Al-Qamar [54]: 1).
Dari Ibnu Mas‘ud ra, dia berkata:
 
انْشَقَّ الْقَمَرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شِقَّتَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْهَدُوا
 
Pada masa Rasulullah saw bulan terbelah menjadi dua bagian. Maka Rasulullah saw bersabda, “Lihatlah (kajadian ini) oleh kalian semua!” (HR. Al-Bukhari: Tafsîr Al-Qur’an hadits no. 4865 [Fath Al-Bârî (8/483)]; Muslim: Shifah Al-Qiyâmah, hadits no. 2800.[Muslim bi Syarh An-Nawawi (9/139)].)
Dari Ibnu Mas‘ud ra, dia berkata:
 
بَيْنَمَا نَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِنًى إِذَا انْفَلَقَ الْقَمَرُ فِلْقَتَيْنِ فَكَانَتْ فِلْقَةٌ وَرَاءَ الْجَبَلِ وَفِلْقَةٌ دُونَهُ فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْهَدُوا
 
Saat kami bersama Rasulullah saw di Mina, maka terbelahlah bulan menjadi 2 bagian. Satu bagian berada di belakang bukit Mina, sedangkan yang sebagian lagi di tempat lain. Maka Rasulullah saw bersabda, “Lihatlah (kajadian ini)!” (HR. Al-Bukhari: Tafsîr Al-Qur’ân hadits no. 4864 [Fath Al-Bârî (8/483)]; Muslim: Shifah Al-Qiyâmah, hadits no. 2800.[Muslim bi Syarh An-Nawawi (9/139)]. Hadits tersebut memakai redaksi Imam Muslim.)
Dari Anas bin Malik ra, dia berkata:
 
أَنَّ أَهْلَ مَكَّةَ سَأَلُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرِيَهُمْ آيَةً فَأَرَاهُمْ انْشِقَاقَ الْقَمَرِ مَرَّتَيْنِ
 
Penduduk Mekah meminta kepada Rasulullah saw agar diperlihatkan kepada mereka suatu mukjizat, maka beliau pun memperlihatkan kepada mereka terbelahnya bulan sebanyak dua kali. (HR. Al-Bukhari: Tafsîr Al-Qur’ân hadits hadits no. 4867 [Fath Al-Bârî (8/483)]; Muslim: Shifah Al-Qiyâmah, hadits no. 2802.[Muslim bi Syarh An-Nawawi (9/139)]. Hadits tersebut memakai redaksi Imam Muslim.)

Penjelasan nubuwat terbelahnya bulan

Dalam ayat dan hadits-hadits terdapat isyarat bahwa hari Kiamat sudah dekat dan masa kehancuran dunia beserta isinya akan segera datang. Sedangkan terpecahnya bulan merupakan salah satu pertanda dari hari Kiamat tersebut.
Mengenai hal ini, Ibnu Katsir menukil khutbah yang disampaikan oleh Hudzaifah ra di hadapan orang-orang, dia berkata, “Ingatlah, hari Kiamat benar-benar sudah dekat. Bukankah bulan sudah terbelah? Dan bukankah dunia ini akan hancur-lebur? Ingatlah, (mulai) hari adalah masa finish (akhir dari perbuatan buruk), sedangkan besok adalah masa perlombaan (dalam hal kebajikan).”
Dalam satu atsar, Ibnu Mas‘ud berkata:
خَمْسٌ قَدْ مَضَيْنَ اللِّزَامُ وَالرُّومُ وَالْبَطْشَةُ وَالْقَمَرُ وَالدُّخَانُ
 
Lima pertanda (hari Kiamat) telah berlalu (dari hadapan kita), yaitu, runtuhnya kekaisaran Roma, tragedi penyiksaan, (terbelahnya) bulan, dan (munculnya) kabut atau asap. (Lihat kedua atsar ini dalam Tafsîr Ibnu Katsîr, 4/262)
Imam An-Nawawi menukil dari Al-Qadhi, dia berkata, “Terbelahnya bulan merupakan di antara mukjizat besar Rasulullah saw. Hal terbukti dengan banyaknya para sahabat yang meriwayatkan peristiwa ini, apalagi secara jelas hal tersebut dicantumkan dalam Al-Qur’an.”
Imam An-Nawawi juga mengutip dari Imam Az-Zujaj, dia berkata, “Sebagian tukang bid‘ah ada juga yang mengingkari hal ini. Hal itu disebabkan kebutaan hati mereka. Padahal logika pun tidak dapat mengingkarinya, sebab bagaimanapun bulan juga makhluk. Dengan demikian Allah swt Mahakuasa untuk berbuat apa saja terhadap makhluk-Nya, sebagaimana Dia juga berkuasa untuk menghancurkannya, bahkan menghilangkannya sama sekali.” (An-Nawawi, Muslim bi Syarh An-Nawawi, 9/140)
Pernyataan Imam Az-Zujaj ini sangat bagus. Di situ disebutkan bahwa akal tidak dapat mengingkari peristiwa ini. Pernyataan terakhir ini menunjukkan bahwa pembuktian (melalui ilmu pengetahuan) tentang masalah ini juga tidak boleh ditinggalkan. Lebih-lebih pengetahuan abad modern menunjukkan kebenaran atas hadits ini. Terbukti hasil foto geologis bulan semakin memperkuat akan terjadinya hal ini.

Penaklukan Baitul Maqdis, Satu dari Tanda Kiamat yang Telah Terjadi


Tanda-tanda kiamat (sughra) yang telah terjadi di antaranya adalah :

1. Wafatnya Rasulullah saw.
2. Penaklukkan Baitul Maqdis yang terjadi pada masa Amirul Mukminin Umar ra.
3. Kematian massal.

Hal ini didasarkan pada hadits dari Auf bin Malik yang berkata, “Aku menghadap Rasulullah saw pada saat beliau berada di sebuah tenda yang terbuat dari kulit ketika perang Tabuk. Beliau bersabda,

اعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ مَوْتِي ثُمَّ فَتْحُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ ثُمَّ مُوْتَانٌ يَأْخُذُ فِيكُمْ كَقُعَاصِ الْغَنَمِ ثُمَّ
 
“Ingatlah olehmu bahwa akan terjadi 6 pertanda hingga datangnya hari Kiamat nanti: (1) kematianku, (2) penaklukkan Baitul Maqdis, (3) kematian massal yang membinasakan kalian bagaikan kambing yang tiba-tiba mati… . (HR. Al-Bukhari: Al-Jizyah wa Al-Muwada’ah, hadits no. 3176 [Fath Al-Bârî (6/320)])


Penaklukan Baitul Maqdis, Satu dari Tanda Kiamat yang Telah Terjadi
Masjid Al-Aqsha di Baitul Maqdis Palestina

Dr. Ahmad Al-Mubayadh menerangkan dalam bukunya Mausu’ah fitan wal malahim wa asyaratus sa’ah bahwa lafal mutan dengan di-dhammah-kan mim-nya bermakna kematian. Ada juga yang mengatakan, “Lafal ini digunakan untuk mununjuk suatu peristiwa kematian massal yang artinya juga identik kematian.” Dikatakan, “Pertanda ini muncul dalam bentuk wabah kolera ‘amwas pada masa Khalifah Umar ra.” Pendapat terakhir inilah yang kami nilai lebih tepat, sebab dhamir pada lafal fikum menunjuk pada para sahabat, terbukti pada zaman itu banyak sekali para sahabat yang meninggal dunia.

Demikian juga Rasulullah saw menyifati kematian massal ini dengan qu‘ash al-ghanam. Maksud lafal tersebut adalah wabah penyakit yang mirip dengan wabah yang menimpa kambing sehingga kambing tersebut mati secara tiba-tiba. Ternak yang terjangkiti wabah itu ditandai dengan keluarnya darah dari hidung hingga hewan tersebut mati secara tiba-tiba. (Fath Al-Bârî, 6/321) Inilah isyarat yang menunjukkan bahwa kematian para sahabat disebabkan karena wabah penyakit.

Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah:


ثُمَّ دَاءٌ يَظْهَرُ فِيكُمْ يَسْتَشْهِدُ اللَّهُ بِهِ ذَرَارِيَّكُمْ وَأَنْفُسَكُمْ وَيُزَكِّي بِهِ أَعْمَالَكُمْ.
 
Kemudian muncullah wabah penyakit di tengah-tengah kalian yang dengan wabah itu Allah swt mematikan keturunan dan diri kalian serta mensucikan amalan kalian. (HR. Ibnu Majah: Al-Fitan, hadits no. 4042, Sunan Ibnu Majah, 2/1341)

Hadits ini merupakan hadits yang datang dari jalur lain. Sebagaimana halnya hadits yang telah disebutkan di muka, hadits ini secara jelas menegaskan bahwa kematian massal para sahabat disebabkan oleh wabah yang menimpa mereka. Pendapat ini juga diperkuat oleh atsar yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Asy-Sya‘bi:


أَنَّ عَوْف بْن مَالِك قَالَ لِمُعَاذٍ فِي طَاعُون عِمَوَاسٍ أَنَّ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِي: اُعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَة, فَقَدْ وَقَعَ مِنْهُنَّ ثَلَاث, يَعْنِي مَوْته صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفَتْح بَيْت الْمَقْدِس وَالطَّاعُون, قَالَ وَبَقِيَ ثَلَاث فَقَالَ لَهُ مُعَاذ: أَنَّ لِهَذَا أَهْلًا
 
Sesungguhnya Auf bin Malik berkata kepada Mu‘adz terkait wabah amwas (wabah kolera), “Rasulullah saw bersabda kepadaku, ‘Ingatlah 6 tanda hari Kiamat.’ 3 di antaranya benar-benar telah terjadi, yaitu: wafatnya Rasulullah saw, penaklukkan Baitul Maqdis, dan wabah kolera. Sedangkan 3 pertanda lainnya belum terjadi. Maka berkatalah Mu‘adz kepada Auf bin Malik, “Sungguh, orang ini adalah ahli dalam bidang ini.” (Fath Al-Bârî, 6/321).

Ciri-ciri dan Karakter Fisik Imam Mahdi


Salah satu tanda kiamat yang sering menjadi pembicaraan adalah munculnya Imam Mahdi. Hingga banyak di zaman ini muncul orang-orang yang mengaku-aku sebagai Imam Mahdi.
Bahkan, di Indonesia seorang perempuan pun ada yang mengaku sebagai Imam Mahdi. Siapa dia? Pasti pembaca sudah mengetahuinya.
Maka sangat perlu kita mengetahui ciri-ciri khusus dari Imam Mahdi. Karena dengan mengetahui ciri-cirinya, kita tidak akan tertipu oleh pengakuan orang-orang yang tak waras tersebut.
Dan berikut ini ciri-ciri Imam Mahdi yang dikabarkan oleh Rasulullah saw, yang saya nukilkan dari buku Ensiklopedi Akhir Zaman, Dr. Ahmad Mubyadh.
Dari Abu Sa‘id Al-Khudri ra, Rasulullah saw bersabda: 
 
الْمَهْدِيُّ مِنِّي، أَجْلَى الْجَبْهَةِ، أَقْنَى الْأَنْفِ، يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً، كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا، يَمْلِكُ سَبْعَ سِنِينَ
 
Al-Mahdi itu berasal dariku, lebar dahinya, dan panjang (mancung) hidungnya, dia akan memenuhi bumi dengan kelurusan dan keadilan, sebagaimana sebelumnya bumi dipenuhi dengan kelaliman dan kezhaliman. Dia akan berkuasa selama 7 tahun. (HR. Abu Dawud, Sunan Abi Dâwud, kitab Al-Mahdi, hadits no. 4265 [‘Aun Al-Ma‘bud (11/375)] Al-Bustawi menukil dari Ibnul Qayyim bahwa dia berkata, “Abu Dawud meriwayatkannya dengan sanad yang jayyid (baik).” Disebutkan bahwa Al-Albani menetapkan hadits ini berderajat hasan, lalu dia mengomentarinya, “Hadits ini hasan karena syahid-syahidnya.” [Al-Bustawi: Al-Mahdi Al-Muntazhar (175)])
Penjelasan:
1. Hadits ini mengutarakan cirikhas terpenting yang dengannya Al-Mahdi dapat dikenali dengan mudah, yakni tersingkapnya rambut dari dahi hingga mendekati pertengahan kepala, tetapi bukan botak, dan orang yang memiliki cirikhas demikian ini pantas jika dikatakan dahinya lebar. Demikian pula hidungnya yang panjang, dengan kehalusan pada ujungnya dan kebengkokan pada bagian tengahnya. 
 
2. Dua cirikhas inilah yang terpenting yang membedakan penampilan luar Al-Mahdi di antara orang-orang yang lainnya. Karena itulah termaktub penjelasan yang gamblang tentang dua cirikhas ini pada sejumlah hadits, sehingga Al-Mahdi dapat dikenali identitas pribadinya dengan itu. 
 
3. As-Sulami menyebutkan pada kitabnya, ‘Uqad Ad-Durar, sejumlah atsar yang memaparkan tambahan ciri-ciri khusus pada diri imam Al-Mahdi. Saya meringkasnya sifat-sifat itu pada beberapa poin berikut ini:
Cirikhas giginya:
a. (أَفْرِقَ الثَّنَايَا): Gigi-gigi depannya renggang dan saling berjauhan.
b. (بَرِيْقَ الثَّنَايَا): Giginya putih dan berkilauan cemerlang.
Cirikhas kulit dan tubuhnya:
a. (اللَّوْنُ لَوْنُ عَرَبِيٍّ، وَالْجِسْمُ جِسْمُ إِسْرَائِيْلِيٍّ): Warna kulitnya hitam.
b. (ِشَابٌّ مَرْبُوْعٌ): Tidak tinggi dan tidak pendek.
Cirikhas wajah dan pipinya:
a. (حَسَنُ الْوَجْهِ): Tampan wajahnya, wajahnya memancarkan cahaya, seakan-akan bintang yang cemerlang.
b. (كَثُّ اللِّحْيَةِ): Lebat jenggotnya, pada sebuah atsar disebutkan bahwa jenggotnya berwarna hitam.
c. (فِي خَدِّهِ اْلأَيْمَنِ خَالٌ أَسْوَدُ): Pada pipi kanannya ada tahi lalat hitam yang nampak jelas.
Cirikhas kedua mata dan kedua alisnya:
a. (أَبْلَجٌ أَعْيُنٌ): Al-ablaj artinya sesuatu yang jelas jarak antara kedua alisnya sehingga keduanya tidak berangkai atau bergandengan, kedua alisnya bukan alis yang tebal dan berangkai. Al-A‘yun artinya orang yang mempunyai mata yang lebar.
b. (أَكْحَلُ الْعَيْنَيْنِ): Pelupuk matanya hitam dan bukan karena bercelak.
Cirikhas lainnya: perutnya gendut, kedua pahanya kurus, pada paha kanannya ada tahi lalat, dan pada pundaknya ada tanda kenabian.
Inilah beberapa cirikhas fisik Al-Mahdi secara global. Yang paling penting adalah yang disebutkan dengan jelas pada hadits-hadits shahih, yakni dahinya lebar dan hidungnya mancung (panjang). Siapapun yang mengkaji cirikhas tersebut secara teliti dan membandingkannya dengan ciri-ciri fisik Nabi saw serta Imam Ali ra pastilah dia mendapati bahwa cirikhas fisik Al-Mahdi tidak keluar dari keadaan fisik beliau berdua sedikitpun. Barangkali cirikhas fisik yang paling mirip dengan cirikhas fisik kakeknya, Imam Ali ra, adalah perutnya yang sedikit gendut dan dahinya yang bersinar terang. Sedangkan cirikhas fisik yang mirip dengan cirikhas fisik kakeknya, Nabi Muhammad saw, adalah giginya yang renggang, tubuhnya tidak tinggi dan tidak pendek, alisnya yang tidak bergandengan, matanya yang lebar, kedua matanya yang hitam bagai bercelak, serta kedua pahanya yang kurus. Dapat dikatakan bahwa ciri-ciri fisik Al-Mahdi itu campuran dari ciri-ciri fisik dua kakeknya, yakni Nabi Muhammad saw dan Imam Ali ra.
Semoga pemaparan di atas dapat membuat kita semakin yakin akan datangnya Imam Mahdi sebagai bagian dari keimanan kepada Hari Akhir. Tentunya, juga kita bisa terhindar dari orang-orang yang mengaku-aku dan mengklaim diri sebagai Imam Mahdi.

Nama Lain Kiamat yang Digunakan untuk Mengkaji Tanda-tanda Akhir Zaman


Kiamat Memiliki Istilah-istilah Lainnya

Kiamat yang harus diimani oleh setiap muslim, sering disebut dengan istilah-istilah lain. Baik dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Nah, berikut ini saya nukilkan apa yang dibahas oleh Dr. Ahmad Al-Mubayadh dalam bukunya Mausu’ah Fitnah wal malahim wa asyaratus sa’ah yang telah diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia dengan judul Ensiklopedi Akhir Zaman tentang berbagai istilah yang disebutkan sebagai nama lain dari kiamat. Yang nama-nama tersebut sering digunakan untuk membahas tentang tanda-tanda kiamat dan akhir zaman.

Berikut ini apa yang dijelaskan oleh Dr. Ahmad Mubayadh.

Istilah-istilah yang Berkaitan Dengan Kajian Tanda-tanda Hari Kiamat

Sebagaimana yang diketahui, ada beberapa istilah yang berkaitan dengan kajian tanda-tanda hari Kiamat yang lebih baik diketahui terlebih dahulu oleh para pengkaji agar dapat mengetahui maksudnya dengan benar. Beberapa istilah yang sangat penting untuk diketahui, antara lain: al-asyrâth, al-amarât, al-ayat, lâ taqum as-sâ‘ah, al-fitan, dan al-malâhim.

Akan kami bahas secara ringkas empat istilah yang pertama, sedangkan definisi al-fitan dan al-malahim kami bahas dalam pasal tersendiri.

1. Al-Asyrâth
Kata ini merupakan kata yang terdapat dalam Al-Qur’an. Maka dari itu, di sini akan kami mulai menjabarkan maksud dari kata ini.

a. Tinjuan Bahasa
Kata asy-syarâth dengan di-fathah huruf ra’-nya mempunyai arti tanda. Sedangkan bentuk jamaknya adalah al-asyrâth. Dengan demikian jika diungkapkan kata al-isytirâth—bentuk derivasi dari as-syarath—maka yang dimaksudkan adalah tanda-tanda yang lazim dijadikan manusia untuk menjelaskan sesuatu. (Ibnu Manzhur, Lisân Al-‘Arab, 7/329)

b. Definisi
Berdasarkan makna akar bahasanya, asyrâth as-sâ‘ah maksudnya adalah tanda-tanda yang dapat diketahui bagi terjadinya hari Kiamat. Menurut pendapat yang lain, “Arti yang dimaksudkan dengan istilah ini adalah tahapan-tahapan atau permulaan-permulaan yang menunjukkan dekatnya hari Kiamat.” Menurut pendapat ulama lain, “Kata ini digunakan untuk menunjukkan peristiwa-peristiwa kecil yang terjadi sebelum peristiwa yang paling besar dan benar-benar terjadi sebagai tanda-tanda bagi dekatnya kedatangan hari Kiamat.” (An-Nawawi, Muslim bi Syarh An-Nawawi (1/175) dan Ibnu Atsir, An-Nihâyah fî Gharîb Al-Ahâdits (2/460)).

Dengan demikian, menurut makna yang terakhir ini, penggunaan istilah al-asyrâth berarti peristiwa-peristiwa kecil yang menunjukkan dekatnya hari Kiamat. Atau, setidaknya tanda-tanda ini menunjukkan bahwa hari Kiamat masih agak jauh. Maka dari itu, Al-Qur’an menggunakan kata ini untuk menunjukkan tanda-tanda hari Kiamat yang dimulai dengan terutusnya Rasulullah saw, sebuah kata yang menunjukkan bahwa hari Kiamat masih agak jauh.
2. Al-Amarât
Kata al-amarât terdapat dalam beberapa redaksi hadits yang di antaranya adalah hadits Jibril. Dalam redaksi tersebut, kata al-amarât sering digunakan, namun kadang juga menggunakan al-asyrâth.

a. Tinjauan Bahasa
Kata al-amarah, dengan di-fathah huruf hamzah-nya makna asalnya adalah tanda kecil terbuat dari batu yang dipergunakan oleh orang-orang yang berdiam di gurun sebagai petunjuk arah. Dengan demikian kata al-amarah berarti tanda atau waktu yang sudah ditentukan. (Ibnu Manzhur, Lisân Al-‘Arab (4/32) dan Ibnu Atsir, An-Nihâyah fî Gharîb Al-Ahâdits (1/67)).

b. Definisi
Dari akar bahasanya, dapat diketahui bahwa kata al-amarah berarti penunjukkan terhadap ciri sesuatu atau waktu yang telah ditentukan bagi sebuah peristiwa. Dalam penggunaan bahasa, kata tersebut ungkapkan untuk menunjukkan tanda-tanda kecil, bukannya tanda-tanda yang besar. Salah satu alasannya adalah dengan digunakannya kata ini untuk menunjukkan sebuah tanda kecil yang terbuat dari batu yang digunakan oleh para pelintas gurun sebagai petunjuk arah.

3. Al-Ayât

a. Tinjauan Bahasa
Kata al-ayat bermakna petunjuk atas kebenaran akan terjadinya sesuatu, atau bisa juga bermakna peristiwa ajaib yang bisa dijadikan ibrah. (Ibnu Manzhur, Lisân Al-‘Arab (14/61)).

b. Definisi
Barang siapa yang mencermati penggunaan Nabi saw terhadap kata ini, maka dia akan mendapati bahwasanya beliau selalu menyertakannya dalam penjelasan tanda-tanda yang besar bagi terjadinya hari Kiamat. Contohnya: 10 (sepuluh) tanda yang pernah beliau sabdakan. Seolah-olah penggunaan kata ini menunjuk pada perkara atau peristiwa besar sebelum terjadinya hari Kiamat. Dengan demikian, kata al-ayat ini berbeda sekali maknanya dengan kata al-asyrâth dan al-amarât dalam kandungan makna yang ditunjukkannya sebagaimana yang dijelaskan maknanya dalam penggunaan bahasa.

Dalam kata al-ayat terangkum 3 arti, yaitu: pertanda, petunjuk, dan sesuatu yang menakjubkan. Maksudnya, al-ayat diungkapkan untuk menunjukkan berbagai petunjuk yang pasti dan sangat kuat bagi terjadinya hari Kiamat yang maknanya jauh berbeda dengan 3 istilah sebelumnya dan di dalamnya mengandung arti sebuah perkara yang menakjubkan yang tidak terangkum dalam kandungan dua kata sebelumnya. Maka dari itu, penggunaan kata ini untuk menunjukkan perkara-perkara yang besar yang sama sekali tidak diperselisihkan tentang kejadiannya. Adapun mengenai sifat menakjubkan yang menjadi ciri peristiwa yang disertai penggunaan kata ini, hal ini terkandung pada sisi peristiwa tersebut yang sama sekali tidak diduga sebelumnya.

4. Sabda Nabi saw: “Lâ tuqum as-sâ‘ah” (Hari Kiamat Tidak Akan Terjadi)
Kadang ungkapan Nabi saw ini dipahami sebagian orang, bahwa hari Kiamat akan terjadi secara langsung setelah tanda-tandanya terjadi di muka bumi. Pemahaman ini justru keliru dalam konteks kalimat tersebut, sebab berbagai tanda hari Kiamat telah banyak terjadi dalam beberapa abad silam, namun toh, hari Kiamat tak kunjung datang.

Yang benar maksud yang diinginkan dari sabda Rasulullah saw dengan menggunakan ungkapan ini adalah penjelasan bahwa peristiwa tersebut pasti akan terjadi di kehidupan dunia. Artinya kehancuran dunia tidak dapat digambarkan sebelum semua kabar yang diberitakan terlaksana. Inilah pemahaman yang benar mengenai ungkapan ini, bukan sebagaimana yang dikatakan oleh beberapa orang.

5. Definisi Al-‘Alamât Ash-Shughra dan Al-‘Alamât Al-Kubra
Orang yang mencermati hadits-hadits al-alamat akan mengetahui bahwa penggunaan kedua terma ini tidak secara jelas dibedakan rinciaannya, apakah suatu pertanda merupakan pertanda shughra, sedangkan tanda yang lainnya adalah pertanda kubra. Yang jelas kata ini dipergunakan untuk menunjukkan semua pertanda yang dikabarkan oleh Rasulullah saw dalam beberapa hadits yang berkaitan erat dengan terjadinya hari Kiamat atau kehancuran dunia tanpa membedakan mana yang shughra dan mana yang kubra.

Adapun asal-usul terma sughra dan kubra ini datang dari para ulama. Dapat dikatakan bahwa kedua terma ini bukanlah berasal dari Nabi saw, tetapi hanyalah buah pikir para ulama. Di sini muncul pertanyaan, dari manakah para ulama tersebut mengambil istilah ini sebagaimana yang termaktub dalam banyak literatur yang membahas mengenai fitnah?

Kami menduga terma ini lahir dari pengertian secara bahasa sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya, yaitu apabila Nabi saw menggunakan kata al-ayat dalam penjabarannya terhadap tanda-tanda hari Kiamat, maka yang dimaksudkan adalah tanda kubra (pertanda yang besar). Sedangkan apabila dalam ungkapannya itu Rasulullah saw menggunakan istilah al-amarât atau al-‘alamât maka yang dimaksudkan adalah tanda-tanda shughra (kecil).

Menurut dugaan kami, pembagian ini menemukan urgensinya dari hasil penelitian yang kemudian didapati bahwa Nabi saw membedakan pemakaian kata dalam memberikan penjelasan terhadap tanda-tanda hari Kiamat. Dalam hadits Rasulullah saw dijelaskan bahwa 10 tanda tersebut masuk dalam kategori al-ayat, yang menunjukkan bahwa tanda-tanda ini berbeda jauh dari tanda-tanda yang lain. Adakalanya hal itu disebabkan oleh betapa pentingnya tanda tersebut, karena tanda tersebut merupakan hal yang amat agung, atau dahsyat akibatnya dan sangat merata, atau bahkan karena tanda atau kejadian tersebut tidak dapat diterima akal dan melanggar batas-batas hukum alam.

Satu lagi pertanyaan yang mengusik dua terma ini: apakah semua pertanda shughra harus terjadi terlebih dahulu sebelum pertanda kubra terjadi?

Yang benar dalam permasalahan ini adalah tidak harus disyaratkan demikian. Orang yang memperhatikan berbagai tanda-tanda hari Kiamat, maka dia akan mendapati bahwa ada beberapa pertanda shughra terjadi setelah pertanda kubra. Runtuhnya Ka‘bah, misalnya, terjadi setelah munculnya Ya’juj dan Ma’juj, Dajjal, dan turunnya Isa as ke dunia. Demikian juga tersebarnya perzinaan secara terang-terangan di jalan-jalan, diangkatnya (hilangnya) Al-Qur’an, serta berbagai pertanda yang lain.

Sesuai yang kami sebutkan, di sini kami katakan, bahwa sebagian tanda-tanda hari Kiamat itu ada yang berbentuk shughra dan ada pula yang berbentuk kubra dan tanda-tanda tersebut secara simultan berkairan erat satu sama lain. Namun realitanya menyatakan bahwa pertanda shughra benar-benar telah terjadi sampai sekarang ini, kecuali beberapa pertanda shughra lainnya yang belum terjadi. Bisa kami katakan, bahwa pertanda itu sebagai awalan bagi terjadinya pertanda kubra atau bisa juga pertanda sughra tersebut mengiringinya, seperti keringnya sungai Eufrat dan akhir dari risalah Islam pada akhir zaman sebelum terjadi kehancuran dunia secara sempurna.
Demikian apa yang Dr. Ahmad Mubayadh terangkan dalam buku beliau. Dari keterangan inilah kita mengetahui berbagai istilah tentang kiamat yang sering digunakan dalam mengkaji tanda-tanda kiamat. Wallahu A’lam.